Wednesday, 21 Dec 2016

17 November 2015

PERHELATAN SENI RUPA, JAKARTA BIENNALE 2015 DIMULAI

Setelah dibuka pada Sabtu, 14 November 2015, Jakarta Biennale 2015 akan berlangsung sampai 17 Januari 2016. Perhelatan seni rupa dua tahunan itu telah dibuka pada 14 November di Gudang Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan.

PERHELATAN SENI RUPA, JAKARTA BIENNALE 2015 DIMULAI

 

IKREATIFONLINE.COM. Setelah dibuka pada Sabtu, 14 November 2015, Jakarta Biennale 2015 akan berlangsung sampai 17 Januari 2016. Perhelatan seni rupa dua tahunan itu telah dibuka pada 14 November di Gudang Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan. Jakarta Biennale kali ini mengusung tiga tema: air, sejarah, dan gender. Ketiganya menghubungkan karya dan proyek seni dari 42 seniman Indonesia dan 28 seniman mancanegara, baik individu maupun kelompok, yang diseleksi para kurator Jakarta Biennale 2015. Total ada tujuh puluh seniman, baik individu maupun kelompok.

 Sebagian besar karya-karya ini akan ditampilkan di Gudang Sarinah—ruang pamer utama Jakarta Biennale 2015. Juga, melanjutkan tradisi Jakarta Biennale sebelumnya, beberapa karya dan proyek seni lainnya diwujudkan di sejumlah ruang publik di Jakarta—meliputi Condet, Paseban, Pejagalan, Penjaringan, Petamburan, Marunda, dan Muara Angke—dan Surabaya. “Kami ingin Jakarta Biennale bisa berbicara, bisa terkoneksi ke banyak orang. Oleh karena itu, dalam proses kuratorial, kami lebih berfokus menghadirkan topik sehari-hari, ketimbang gagasan dari suatu pemikiran teoritis,” jelas Charles Esche, salah satu kurator Jakarta Biennale 2015.

“Kenapa air, sejarah, dan gender? Karena semua orang punya ketiga hal tersebut. Sembilan puluh persen tubuh manusia terdiri dari air. Juga, karena ini negara kepulauan, semua warga Indonesia praktis tinggal dekat air. Dan pastinya semua orang punya sejarah, juga gender,” tambah Charles. “Ketika kami berdiskusi Januari lalu, isu yang muncul pertama kali memang air—tentang banjir, persediaan air minum, penggusuran warga di bantaran sungai. Seiring berjalannya waktu, kami menemukan banyak isu lain yang perlu diberi wadah. Semuanya terhubung lewat isu sejarah dan gender,” uajranya kepada iKreatif. 

Ketiga tema inilah yang dibawa para kurator ke seniman-seniman pilihan Jakarta Biennale 2015. Responsnya beragam dan memantik dialog kreatif antara seniman dengan para kurator. Tisna Sanjaya, salah satu seniman yang hadir di konferensi pers, jadi teringat akan Cigondewah, sebuah desa di Bandung Selatan, tempat sang seniman tinggal dan berkarya selama ini. “Dulu Cigondewah subur, sungainya bersih, gerakan Islamnya kultural. Warga saling berbagi. Ketika kapitalisme masuk lewat pabrik-pabrik tekstil, Cigondewah mulai rusak. Sungai jadi kotor, gerakan Islamnya jadi mudah sekali dibeli. Meski begitu, warganya tetap saling berbagi. Karya saya mencoba merespons ini,” tutur Tisna.
 
Tita Salina dan Zeyno Pekünlü, seniman lainnya, menyorot isu berbeda. Lewat instalasi pulau buatan dari sampah-sampah di Teluk Jakarta, Tita yang juga berasal dari Jakarta membahas proyek reklamasi dan tanggul laut raksasa di kawasan setempat. Sementara itu Zeyno Pekünlü, asal Turki, mengangkat diskriminasi hukum di negaranya terhadap perempuan korban kekerasan seksual. Isu ini dikomunikasikan lewat serangkaian poster dan karya video tentang sebuah film laga jadi-jadian, di mana sang seniman menjadi protagonisnya.
 
“Dengan adanya tiga tema pameran, lantas bagaimana cara kita bisa menikmati karya seni di Jakarta Biennale 2015?” tanya Faisal, seorang mahasiswa asal Depok. “Bolehkah kita tidak mengikuti teks sinopsis yang biasanya dipajang bersama karya?” “Jawaban untuk pertanyaan itu saya kira sama dengan jawaban untuk pertanyaan: bagaimana cara memahami gado-gado? Bagaimana cara memahami tidur? Cuma ada satu cara, yakni dengan mengalaminya. Lewat pengalaman itulah kamu membentuk pemahamanmu sendiri,” jawab Charles sambil tersenyum.
 
Pemilihan Gudang Sarinah sebagai ruang pamer utama juga diniatkan untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi publik. “Gudang Sarinah berbeda dengan galeri-galeri yang biasa jadi tempat pameran seni. Di sini tidak rapi, dindingnya tidak putih bersih, dan jujur saja: panas,” jelas Irma. “Cara kami menempatkan karya di Gudang Sarinah ini terinspirasi dari arsitektur kampung-kampung di Jakarta. Organik, sporadis. Ada ruang terbuka di suatu tempat, ada bangunan berdempet-dempetan di sebelahnya, di antaranya ada jalan tikus, dan sebagainya.”
 
Selain sebagai ruang utama pameran, Gudang Sarinah juga akan menjadi tempat penyelenggaraan Simposium “Makan Nggak Makan Asal Kumpul”—rangkaian diskusi bersama seniman dan akademisi—dari 16 sampai 19 November 2015. Juga akan berlangsung peluncuran buku Seni Rupa Kita hasil program Edukasi Publik—buku materi belajar tentang seni rupa, yang akan dibagikan ke publik dan SMA-SMA di Jakarta. Semua program ini terbuka untuk publik, dan merupakan bagian dari misi pendidikan Jakarta Biennale 2015.
 
“Satu kebutuhan yang ingin kami jawab melalui bienial ini adalah distribusi pengetahuan tentang seni. Sudah terlalu lama seni rupa dianggap elitis, sudah saatnya stigma itu diubah,” jelas Ade Darmawan, direktur eksekutif Jakarta Biennale 2015, di konferensi pers. “Untuk pelaku seninya sendiri, kami mengundang sejumlah kurator muda dalam Curators Lab, yang hasilnya bisa dilihat selama pameran. Untuk publik, kami mengadakan program Edukasi Publik untuk anak-anak SMA, dan Roadshow untuk mahasiswa dan warga Jakarta pada umumnya.”
 
Irawan Karseno, ketua Dewan Kesenian Jakarta, mengamini. “Kesenian adalah tawaran bagi warga yang haus akan kebenaran dan peningkatan kualitas hidup. Jakarta Biennale bisa berperan di situ, terutama sekarang ini, ketika sedikit sekali wacana dan gagasan yang steril dari kepentingan politik dan komersil.” (AJP) Informasi selengkapnya terkait jadwal dan program Jakarta Biennale 2015 dapat diakses di situs jakartabiennale.net. Ikuti juga kabar dan perkembangan teranyar Jakarta Biennale 2015 via Twitter, Facebook, dan Instagram. (Erfendi Eka Putra)





NEWSLETTER


creative-ads