
Teks : Erfendi Eka Putra
IKREATIFONLINE.COM. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di benak seorang Fify Manan, bahwa produk furnitur karya perusahaan keluarga yang berlabel Formcase dapat tembus ke lima benua. Bahkan kini produk furniturnya sudah berada di Gedung Putih dan masuk Departemen Pertahanan Amerika Serikat di Pentagon.
Semua dimulai saat dia sukses mengantongi kontrak khusus sebagai pemasok produk ke instansi pemerintah di Negeri Paman Sam dari General Service Administration (GSA), 10 tahun silam. Hal itu diceritakan kembali oleh Fify ketika didapuk menjadi salah seorang pembicara dalamKongres Diaspora Indonesia 3 di Jakarta, belum lama ini.
“Hanya produsen pemilik kontrak GSA yang bisa mengirim produknya ke Pentagon dan Gedung Putih. Dan kami berhasil meraih kontrak itu. Untuk bisa lolos dan memperoleh kontrak itu tidak mudah, karena pihak pemerintah AS meninjau semua aspek, terutama soal kualitas,” kata Fify.
Kontrak GSA itu merupakan syarat mutlak apabila sebuah perusahaan ingin memasok ke instansi di AS. Setelah itu, dia bisa mengakses sebuah situs pembelian khusus yang telah didesain pemerintah. “Di dalam situs tersebut tersedia dua informasi penting yakni kontraktor yang mendistribusikan produk ke perusahaan pemerintah dan instansi pemerintah mana yang sedang membutuhkan produk untuk didistribusikan,” ujar pemilik perusahaan yang berdomisili di negara bagian Atlanta ini.
Dari situ dia dapat melihat instansi pemerintah mana saja yang msedang membuka kesempatan proyek. Kemudian dia mengajukan proposal ke departemen-departemen itu. “Saya senang berbisnis dengan Pemerintah AS, karena semuanya serba transparan. Selain itu mereka juga telah menetapkan standar untuk semua produk furnitur yang mereka butuhkan. Saya tinggal mengikuti saja,” katanya.
DARI WORKSHOP KECIL
Sebelum melebarkan sayap ke AS, keluarganya telah mengelola perusahaan itu sejak tahun 1963.Dari yang awalnya hanya sebuah workshop kecil dan dirintis oleh ayah mertuanya, kini sudah semakin menggurita menjadi berbagai divisi perusahaan. “Ya, sebagai titik mula kami mulai membesarkan perusahaan ini di Indonesia dulu dengan memiliki pabrik di Tangerang. Lalu membidik kawasan Asia, regional baru ke lintas benua,” papar istri Robert Manan itu.
Perempuan 49 tahun tersebut awalnya menjual produknya ke AS melalui distributor. Pasarnya lumayan besar. Tapi, dia tidak pernah tahu siapa pasar produknya itu. ”Karenanya, saya putuskan untuk berangkat ke sana sekaligus membuka kantor perwakilan. Dari situ saya jadi tahu siapa market kita. Selama ini yang berkuasa distributor. Kita jadi bawahan mereka,” ungkap Fify.
Dia mulai ekspansi ke AS pada tahun 2001 silam, berbekal dua koper pakaian. Fify ditemani putri sulungnya, Jessica, yang saat itu berusia sebelas tahun. Dia tinggal di sebuah apartemen di Georgia. Di AS, Fifi mulai menjalankan strategi bisnis dari nol. Meski tidak tahu peta bisnis di sana, Fifi yakin usahanya tidak sia-sia.
Dia lalu menyewa kantor dan gudang di Atlanta. Namun sayang, baru dua bulan usahanya berjalan, terjadilah peristiwa 11 September 2001. “Gedung kembar World Trade Center dan Pentagon diledakkan. Dampaknya, bisnis di Amerika ikut mati. Bahkan sampai lima tahun masih terasa,” kenangnya.
Fify meyakini, separah apa pun situasi bisnis di AS, pemerintah tetap punya uang untuk menjalankan roda pemerintahan. Itu sebabnya, dia kemudian berkonsentrasi ke pasar pemerintah. Maka, langkah pertama yang ditempuh Fify saat itu adalah mendapatkan kontrak GSA lebih dulu. Kalau sudah dapat kontrak GSA, semua permintaan yang dikeluarkan pemerintah kita bisa tahu. Sistemnya serba online dan hanya bisa login jika sudah dapat kontrak GSA.
Perputaran uang dari pemenuhan kebutuhan pemerintah negara bagian itu ternyata besar. Sampai akhirnya pada 2005 Fify sanggup membeli rumah di sana dan meninggalkan kehidupan di apartemen. Sambil terus meningkatkan penetrasi di pasar AS, Fify bekerja keras siang malam mengurus pasar yang sebelumnya dia tembus di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. ”Jadi, kalau siang saya kerja untuk pasar AS, malamnya saya komunikasi untuk pasar di negara lain. Kan jamnya berbeda,” terusnya.
Kontrak GSA setiap lima tahun diperpanjang. Perpanjangan kontrak berlaku otomatis sebagai cerminan birokrasi dan perizinan bisnis yang sederhana dan tidak njlimet. ”Kontrak itu tidak akan diperpanjang jika perusahaannya bermasalah. Tapi, sejauh lancar dan baik-baik saja, otomatis diperpanjang,” kata Fify yang tiga bulan sekali pulang ke Indonesia.
Fify tetap menjadi WNI yang berdomisili di AS sehingga menjadi bagian dari Diaspora Indonesia. Tinggal di AS bagi Fify bukan hal baru karena selulus SMA dia kuliah di sana mengambil jurusan electrical engineering di Oklahoma State University. ”Kuncinya, kami selalu mengikuti perkembangan. Rajin ikut pameran dan improvisasi,” pungkasnya.