
Teks & Foto: Ade Riyan Purnama
IKREATIFONLINE.COM. Margo City Depok menjadi saksi bagaimana antusiasnya penggemar komik bisa bertemu komikus idolanya dalam sebuat event yang disebut re:CON. Acara re:CON yang digagas oleh re:ON ini sesungguhnya bertujuan untuk reuni. “Mereka bisa berkumpul merayakan pesta kebangkitan komik Indonesia. Bisa bertemu para komikus idola mereka,“ jelas Sandro Willy, Marketing Manager re:ON, kepada ikreatif.
re:CON sendiri merupakan event pop culture yang memamerkan komik, live drawing, cosplay, talkshow, workshop, dan merchandise resmi dari berbagai karya cipta intelektual (IP) yang dikelola oleh re:ON Comics. Di sini pengunjung dapat menikmati event pop culture di Depok yang dikelola secara profesional dan disesuaikan untuk anak muda. Sedangkan penggemar re:ON Comics dapat memenuhi keinginan mereka untuk bertemu dengan komikus idola mereka dan cosplayer resmi re:ON Comics secara langsung. Tidak dipungut biaya apapun untuk hadir di re:CON 2015 alias bebas biaya masuk ke konvensi ini.
Salah seorang pendiri re:ON Comics, Chris Lie dalam keterangannya menyebut ajang ini memiliki arti sangat penting dalam perjalanan sejarah komik Indonesia dan budaya kreatif populer di Indonesia karena mencoba mencari format baru dalam mem– populerkan komik karya komikus lokal. “Seperti impian teman-teman komikus Indonesia lainnya, kami ingin, mengambil bagian untuk mendorong para komikus lokal Indonesia agar bisa unjuk gigi bahwa kita masih eksis dan siap bersaing dengan komikus luar,” kata Chris di Margo City, Depok.
re:CON 2015 berlangsung pada akhir April 2015 lalu menjadi acara paling seru karena seabrek agenda yang sudah ditunggu-tunggu ratusan ribu Reonites alias para penggemar re:ON, akan segera berlangsung. Diakui Chris, dia dan para pendiri re:ON Comics yakni Yudha Negara Nyoman dan Andik Prayogo serta semua komikus memiliki impian yang sama untuk memajukan industri kreatif ini di Indonesia. “Sekarang kami mencoba berdiri dan kita sadar kita tidak bisa sendiri. Industri kreatif kita harus disokong ramai-ramai oleh konsumen termasuk juga dari dunia usaha. Semua ini kami lakukan untuk ikut berperan serta membangun negara kita khususnya dari sisi ekonomi kreatif,” sambung Chris.
Sedangkan Yudha Negara Nyoman mengaku tidak menduga begitu besarnya sambutan masyarakat atas re:CON 2015 ini termasuk para sponsor maupun pendukung acara lainnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya dukungan atas event ini dari beberapa nama besar dunia usaha antara lain BCA, Nestle, Wings Food, KinoCare, KakaoTalk, Wacom Datascrip, Kusuka, dan Wacoal.
Sementara Andik Prayogo mengatakan, untuk membangkitkan kembali komik Indonesia sebagaimana cita-cita re:ON selain dibutuhkan profesionalitas, juga kerja keras, dan konsistensi yang tidak kenal lelah. “Setidaknya kami telah memulai pendekatan-pendekatan baru namun tetap yang terpentingadalah kegigihan yang berkesinambungan untuk senantiasa mencoba berbagai terobosan baru terutama dalam dari sisi pemasaran,” kata Andik yang bersama-sama Chris dan Yudha mendirikan re:ON Comics pada tahun 2013 lalu.
Sementara itu Is Yuniarto, seorang komikus asal Surabaya menambahkan bahwa potensi komik di Indonesia sebenarnya sangat bagus. “Lihat kenyataan di lapangan aja. Banyak banget komikus Indonesia yang kerja untuk percetakan di luar negeri,“ jelasnya. Ia sendiri mengaku sejak tahun 2005 mulai membuat komik. Dan menurutnya, saat ini kendala para komikus di Indonesia masih ada di seputar deadline.
“Kita ini negara dengan pembaca komik tertinggi kedua setelah Jepang,“ ujar Sandro Willy, Marketing Manager re:ON, tentang kenyataan tersebut. Namun sayangnya, kata Sandro, kenyataan di lapangan yang kurang signifikan dalam menunjang proses kreatif komikus, asli Indonesia itulah yang melemahkan daya karya mereka.