
IKREATIFONLINE.COM. Pemerintah Kota Bandung, bersama Komite Ekonomi Kreatif Kota Bandung dan bekerja sama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF), kembali menyelenggarakan Design Action.bdg (DA.bdg). Ajang workshop-conference internasional itu menerapkan metodologi Design Thinking untuk menemukan solusi inovatif bagi berbagai permasalahan kota, dengan melibatkan keempat pemangku kepentingan kota: pemerintah, pihak swasta, akademisi, dan komunitas.
Salah satu pra-event DA.bdg adalah sebuah seminar mini bertajuk Home at Work | Welcome to The #FashionVillage!, sebuah program penelitian desain yang diinisiasi oleh Mo Smit (arsitek, pendiri COCOCAN, dan dosen di Delft University of Technology, Belanda).
“Tujuan dari program ini adalah untuk mengubah kampung-kampung industri di sekitar pabrik tekstil dan garmen yang tak terencana dan sangat terpapar polusi menjadi sebuah ruang hunian sekaligus lingkungan kerja yang sehat, tangguh, dan mandiri”, ungkap Mo, yang telah melakukan penelitian ini selama beberapa bulan di Cigondewah, seperti dikutip dari keterangan pers BCCF.
Home at Work/ Fashion Village Lab adalah sebuah penelitian dan pengujian nyata yang bermaksud menjadikan Bandung sebuah wilayah urban dengan manufaktur tekstil, garmen dan fashion yang paling kreatif dan berkelanjutan di dunia.
“Program ini sangat relevan dengan DA.bdg, karena mengangkat permasalahan kota dari sisi kesejahteraan dan kondisi permukiman bagi para pekerja pabrik, ketangguhan pengusaha lokal dalam rantai industri, dan sumber daya dalam lingkup kota seperti air, energi dan material, termasuk limbah,” tambah Tita Larasati, steering committee DA.bdg.
Ketua BCCF, yang juga Ketua Karang Taruna Kota Bandung, Fiki Satari menambahkan, “Isu ini penting untuk diangkat, mengingat reputasi Bandung sebagai pusat industri tekstil, garmen, dan fashion, terutama untuk berbagai fashion brand dunia, namun kondisi lingkungan dan sumber daya manusianya belum seluruhnya layak.
Sementara berbagai fashion brand dunia inilah yang menguasai mal-mal di Indonesia; sesuatu yang tidak mudah terjangkau oleh berbagai brand lokal, dikarenakan keterbatasan modal hingga anggaran pemasaran.
“Kondisi sumber daya dan wilayah yang sebenarnya berpotensi tinggi ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan seluruh stakeholders terkait. Dengan menyadari, menghargai, serta menerapkan daya kreativitas untuk mengatasi berbagai permasalahan kota, diharapkan kita akan lebih siap dan percaya diri dalam menghadapi tantangan mendatang seperti MEA,” pungkasnya.
Seminar itu menghadirkan Mo Smit yang memaparkan program penelitian dan temuannya,Dr. Kahfiati Kahdar dari Program Studi Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), yang membahas ethical fashion, dan Dodit Ardian, Kepala Bidang Perumahan, Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (Distarcip) Kota Bandung.