Thursday, 21 Sep 2017

23 November 2015

KETIKA SARINAH MELIRIK ANAK MUDA

SARINAH, PUSAT PERBELANJAAN PERTAMA DI INDONESIA, TELAH MELINTASI BERBAGAI ERA. GEDUNG SARINAH YANG DIPRAKARSAI OLEH PRESIDEN SOEKARNO INI MENJADI SIMBOL BAGI PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN PRODUK-PRODUK INDONESIA.

KETIKA SARINAH MELIRIK ANAK MUDA

 

Teks: Ade Riyan Purnama

IKREATIFONLINE.COM.  Jika bicara Jakarta, maka yang identik adalah gedung-gedung pencakar langitnya. Namun di antara ratusan gedung tersebut, Gedung Sarinah lah yang menjadi pionernya. Dalam perkembangannya kini, Sarinah telah berubah bentuk menjadi BUMN dan menjadi tempat resmi bagi para pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) yang ingin menjual karya-karya terbaiknya. Namun tak hanya itu, Sarinah sendiri sebenarnya memiliki tiga titik fokus bisnis; yaitu retail, trading, dan properti. Namun kita juga perlu mengetahui, bahwa Sarinah adalah pusat perbelanjaan pertama yang ada di Indonesia. Untuk itulah sudah bisa dipastikan bahwa Sarinah memang istimewa.

Sarinah berdiri pada tanggal 17 Agustus 1962 dan langsung diresmikan sebagai PT Sarinah (Persero), di saat situasi makro ekonomi Indonesia dalam keadaanyang sangat buruk. Oleh sebab itu Sarinah diharapkan akan menjadi stimulator, mediator dan alat distribusi ke masyarakat luas dan menjalankan fungsinya sebagai stabilisator ekonomi, pelopor dalam pengembangan usaha perdagangan eceran (ritel).

Sarinah, merupakan nama yang diberikan oleh Presiden Soekarno sebagai bentuk penghargaan dan memuliakan nama salah satu pengasuhnya yang berasal dari kalangan bawah. Sesuai dengan itu, Sarinah telah membantu kepentingan masyarakat kecil sebagai mitra usaha. Dan itu terbukti, hingga saat ini cukup banyak mitra binaan Sarinah baik perorangan, perusahaan, maupun koperasi.

“Indonesia itu keren banget. Ini badan saya semuanya dari Indonesia loh, kecuali cincin kawin,“ ujar Handriani Tjatur Setiowati, Direktur Operasional Sarinah, sambil tersenyum. Menurutnya, karya dari para pengrajin di Indonesia sebenarnya tak kalah dari produk-produk luar negeri dengan merek mahal. Bahkan, pengrajin dari Indonesia itu sangat teliti dan telaten dalam membuat suatu karya. Seorang pengrajin dari Kupang misalnya, ia akan menyelesaikan satu kain yang ia tenun dengan tangannya langsung selama tiga bulan. “Bayangkan, tiga bulan untuk harga 300 ribu rupiah. Padahal, kalau beli tas Hermes harga sepuluh juta nggak pakai mikir,” kelakar wanita yang biasa disebut Wati ini.

Sarinah telah berusaha sedemikian keras untuk mengembalikan kecintaan masyarakat terhadap produk dalam negeri. Hal itu terbukti dengan mengadakan acara Indonesian Fashion Week. “Itu acara pameran produk Indonesia dan bikin satu Jakarta macet. Itu keren banget,“ ujar Wati. Selain itu, saat ini Sarinah sedang berusaha untuk mengembangkan potensi anak muda yang masuk dalam dunia Industri kreatif.

Menurut Wati, anak muda Indonesia sebenarnya sangat kreatif, hanya saja mereka malas untuk berpikir berat. “Contohnya sepatu saya ini, saya beli di Pasar Santa, sepatunya bagus dan enak dipakai,“ katanya. Hanya saja, katanya, desain sepatunya masih meniru desain dari luar. Dalam hal ini, Sarinah masih terus berusaha memberikan kontribusi agar para pemuda di Indonesia bisa mencari cara menghasilkan produk tanpa menirupada dunia luar.

“Sarinah sendiri menyediakan tempat seluas-luasnya untuk para pengrajin Indonesia memasarkan barang dagangannya. Namun tentu Sarinah menerapkan keharusan kualitas tinggi,” terangnya. Fokus terhadap retail memang yang lebih dititikberatkan Sarinah. “Kalau retail harus setiap hari di urus. Tapi kalau properti, tempat sudah disewa lima tahun, kita tinggal maintenance saja,“ ungkapnya. “Mengembalikan kekuatan budaya bangsa, saat ini menjadi fokus utama Sarinah dalam mengembangkan UMKM dalam bidang industri kreatif. Untuk itulah, Sarinah mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak malu menggunakan barang hasil dari para pengrajin Indonesia. Sebab sebenarnya, produksi Indonesia tak kalah bagus dengan rroduksi luar negeri,” tutupnya.





NEWSLETTER


creative-ads