Monday, 15 May 2017

20 November 2015

ERA KREATIF, (SUDAH) DI DEPAN MATA

TERLALU BANYAK SUBSEKTOR DI BIDANG EKONOMI KREATIF SEHINGGA HARUS ADA INDUSTRI UNGGULAN YANG MENJADI LOKOMOTIF.

ERA KREATIF, (SUDAH) DI DEPAN MATA

 

Teks: Erfendi Eka Putra

IKREATIFONLINE.COM. Presiden Jokowi akhirnya membentuk Badan Ekonomi Kreatif (BEK). Sesuai janjinya, Jokowi menempatkan BEK dalam urusan strategis. Signifikansi lembaga ini menumbuhkan energi baru. Dalam kerangka mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, BEK adalah motor penggerak stakeholder yang bergerak di lini kreativitas dan mengeksploitasi kreasi dan daya cipta individu.

Harapan memang tinggi digantungkan ke BEK. Pertanyaannya, akankah kerja dari lembaga ini bisa optimal? Triawan Munaf, Kepala BEK menyatakan optimismenya. Walaupun kenyataannya BEK belum memiliki kantor dan perangkat personalia defenitif.

Beberapa waktu setelah dilantik Presiden, mantan vokalis sekaligus pemain keyboard grup band progressive rock asal Bandung, Giant Step, itu menginginkan industri kreatif Indonesia bisa seperti Korea Selatan. Alasannya, industri kreatif di Korea menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara itu.

“Kalau kualitas film, kuliner, tari-tarian, dan pertunjukan ditingkatkan, kita bisa seperti Korea,” kata Triawan setelah dilantik di Istana Kepresidenan, Senin, 26 Januari 2015, seperti dikutip tempo online. Meski begitu, Triawan belum bisa secara detail menyebutkan porsi penambahan devisa negara dari industri kreatif di Indonesia. “Sekarang kan tujuh persen dari PDB, nanti harus ditingkatkan dalam beberapa tahun ini dua kali lipat,” ujarnya.

Cara mencampainya, ia akan menerapkan strategi pemilihan sektor-sektor unggulan dari berbagai subsektor yang ada di industri ekonomi kreatif. Menurutnya terlalu banyak subsektor di bidang ekonomi kreatif, sehingga harus ada industri unggulan yang menjadi lokomotif.

“Misalnya film, atau kuliner, baru nanti yang lain akan ikut,” ujarnya. Harus ada semacam champion dari subsekstor. Harus dipilih dari subsektor tertentu untuk menjadi lokomotif dan yang lain ikut.

Budyarto Linggowiyono, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Kreatif dan MICE berharap BEK dapat menjalankan tiga tujuan utamanya yaitu melipatgandakan jumlah “intellectual property” (IP) dan merek yang dimiliki Indonesia, meningkatkan kuantitas dan kualitas industri kreatif dan penyerapan tenaga kerja kreatif, serta mendorong peningkatan investasi di bidang industri kreatif. “BEK ini akan menjadi akselerator tumbuhnya industri kreatif dengan memfasilitasi koordinasi antara Pemerintah, pelaku usaha kreatif, dan pihak-pihak terkait,” ujarnya. Ia juga mengusulkan agar BEK membuat “mapping” atau peta perencanaan untuk mengembangkan 16 subsektor yang dinaunginya antara lain film, kuliner, mode, pekerjaan tangan, fotografi, aplikasi game, dan arsitektur.

“Semua subsektor harus dikembangkan dengan merata, tidak boleh ada yang diprioritaskan atau ditinggalkan,” tuturnya. Kadin jelas Budi telah menghitung pasar industri kreatif nasional tahun ini akan menembus Rp900 triliun atau tumbuh 28,5% dibandingkan dengan tahun lalu. Pesatnya pertumbuhan demografi Indonesia menjadi dasar keyakinan Kadin akan meningkatnya permintaan di sektor ini. Budi mengatakan pelaku industri kreatif harus membangun citra produk lokal demi meningkatkan daya saing.

“Kami melihat pertumbuhannya realistis saja. Target tahun ini mungkin pertumbuhannya bisa mencapai Rp200 triliun karena semakin banyaknya penduduk, terutama kaum usia muda, menyebabkan permintaan akan hasil industri ini juga ikut bertambah,” ujarnya, disela-sela kegiatan pameran furniture di kawasan JCC Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Target ini adalah target realistis dari kami, tapi tantangannya adalah bagaimana mengajak konsumen Indonesia menggunakan local brand dan mengaplikasikan triple helix (sinergi kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah) hingga ke tingkatan daerah,” jelasnya.

Kendati nilai pasarnya besar, Budi menilai kontribusi industri kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) kemungkinan hanya 9% pada 2015, meningkat 2 basis poin dari kontribusi tahun lalu yang sebesar 7%.

“Kami tak bisa melakukan percepatan pertumbuhan kontribusi yang amat sangat (besar) mengingat besarnya proporsi sektor ini kan juga bergantung terhadap pertumbuhan PDB. Kalau pertumbuhan PDB total melebihi pertumbuhan output sektor industri kreatif kan proporsinya tetap saja stagnan,” tutur Budiarto. Untuk itu, Budi juga menopang harapan besar kepada BEK. Sayangnya, BEK baru punya kepala, sedangkan tangan-tangannya belum ada.

SUMBER PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

Dalam buku Rencana aksi ekonomi kreatif 2015-2019 yang diterbitkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di masa pemerintahan sebelumnya dijabarkan bahwa dalam masa empat tahun terakhir ini, ekonomi kreatif secara rata-rata tumbuh sebesar 5% per tahun.

Bahkan, pada tahun 2013 dan 2014 ekonomi kreatif mengalami pertumbuhan sebesar 5,76% dan 7%, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusi ekonomi kreatif terhadap pendapatan domestik bruto, rata-rata sekitar 7,1%.

Sektor ekonomi ini juga mampu menyerap rata-rata tenaga kerja sebanyak 11,7 juta tenaga kerja atau sekitar 10,65% dari total jumlah tenaga kerja nasional. Jumlah unit usaha kreatif pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 5,4 juta unit. Ekspor karya kreatif mencapai US$3,23 miliar pada tahun 2013, dengan pertumbuhan 3% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari deretan angka-angka tersebut hal yang terpenting menurut Prabu Wardono, Mdes,PhD, pengajar desain interior Fakultas Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung, ekonomi kreatif berperan dalam meningkatkan citra dan identitas bangsa Indonesia di tingkat internasional. Sedangkan di dalam negeri, ekonomi kreatif berperan dalam meningkatkan toleransi dan kohesi sosial di masyarakat, mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat lokal. Hal tersebut menurutnya karena ekonomi kreatif merupakan sektor yang berbasis kepada sumber daya yang terbarukan; yaitu ide, kreativitas, dan inovasi dari SDM.

Sementara itu, Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjelaskan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 230 juta jiwa mempunyai keuntungan tersendiri, “Dibandingkan Malaysia misalnya, kita punya pasar yang besar untuk membesarkan industri dalam negeri,” ungkapnya.

Mari menyebutkan, untuk mengembangkannya, Pemerintah sudah membuat cetak biru yang terdiri atas beberapa rencana aksi. “Orang kreatif merupakan fondasi yang paling utama. Dia harus dikembangkan melalui pelatihan dan pengembangan. Kemudian kerangkanya adalah industri yang harus dikembangkan,” ujarnya.

Tidak cukup itu saja, dari segi pemasaran juga perlu menjadi perhatian. Menurut Mari, pasar dalam industri kreatif itu bukan hanya toko atau galeri tetapi juga bagaimana mereka mendapat apresiasi.

Teknologi dan infrastruktur serta lingkungan kondusif yang diwujudkan melalui kelembagaan juga mempunyai peran yang penting. Sinergi antara Pemerintah, industri, akademisi dan juga komunitas dalam pengembangan industri kreatif di Indonesia menjadi sesuatu yang perlu dilakukan dengan baik.

Mari mengakui, peran komunitas dalam menumbuhkan industri ini sangatlah penting. “Saya percaya, ini bisa menjadi kekuatan baru jika dikelola dengan baik. Perlu konsistensi dan dimulai dengan diri sendiri, bangga dengan budaya sendiri,” tutup perempuan yang pernah menjadi menteri perdagangan itu.





NEWSLETTER


creative-ads