-_niat_mulia_remaja_underground_20151120040257.jpg)
Teks: Zal Hanif
IKREATIFONLINE.COM. Kegigihan pria berperawakan kurus ini dalam mencari celah pasar patut diacungi jempol. Setiap ada kesempatan sekecil apa pun, Phaerly Maviec Masudi Ratulangi, Founder of Parental Advisory Baby Clothing, langsung memanfaatkan peluang tersebut secar maksimal. Terutama mempromosikan parental baby clothing beraliran metal yang diproduksinya.
Ompei (nama panggilannya) begitu bersemangat mempresentasikan konsep parental baby clothing, yang ia geluti. Baginya menjembatani gap antara generasi “muda” dengan generasi “tua” lewat jalur kreatif, yaitu clothing dan berbagai event kreatif adalah misi yang harus dijalani. Tak heran, dengan kesungguhan, keuletan, dan tekad yang kuat tersebut, produknya semakin dikenal dan diterima pasar. Malaysia, Amerika, hingga Kenya-Afrika telah dirambahnya. “Sudah saatnya kita jemput bola. Kita tidak bisa hanya diam menunggu orang asing datang dan membeli produk kita. Tapi kita juga harus mengatur strategi untuk langsung masuk ke pasar mereka,” ujarnya.
Ompei ternyata tidak berpikir keuntungan bisnis semata. Lebih dari itu, pria berkacamata ini juga memiliki misi sosial dengan mendirikan Yayasan Adikaka pada tahun 2006, yang dimaksudkan untuk kampanye bermain bagi orang tua dan tempat bermain gratis buat anak-anak ekonomi lemah. Pria yang semasa remaja harus sembunyi-sembunyi menggemari musik underground itu, kini terus berupaya mengikis citra keras, kasar, dan negatif yang selama ini akrab dengan komunitas underground.
Baginya, kegiatan yang positif, dan berbisnis dengan mengedepankan kreativitas mutlak dilakukan, agar secara ekonomi lebih mapan dan bisa berbuat lebih banyak bagi yang membutuhkan. “Meski omzet bisnis kaos ala distro ini baru berkisar Rp100-Rp150 juta per bulan, namun saya sudah berkomitmen untuk membantu anak- anak underground berekonomi lemah. Dari omzet tersebut sebagian disisihkan untuk aksi sosial,” ujar Ompei yang rajin membagi ilmu sablon kaos melalui dunia maya.
Ompei yang mengaku tak lulus bangku kuliah ini menuturkan, tidaklah mudah mencapai kondisi seperti saat ini. Butuh kerja keras, dan semangat pantang menyerah. Ia mulai merintis usaha pembuatan kaos dan pernak-pernik grup band underground, hanya bermodalkan Rp200 ribu. “Berkat inovasi ini saya mendapatkan penghargaan “Danamon Award” pada 2008,” kata lelaki yang juga menjadi konsultan bisnis kaos ini.