Thursday, 27 Jul 2017

05 August 2016

Booming Ekonomi Kreatif Tinggal Menunggu Waktu

Di tengah upaya Makassar mewujudkan dirinya menjadi kota kelas dunia, nyaman dan kota untuk semua, terselip kebangkitan ekonomi kreatif di setiap lorong kota.

Booming Ekonomi Kreatif Tinggal Menunggu Waktu

Teks: Rusli M. Tatang Foto: Ade Riyan Purnama

Ada yang berbeda dari wajah Kota Makassar saat ini. Optimis dan kreatif. Seperti itulah kira-kirab ilustrasinya. Perubahan yang secara perlahan mulai dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat tingkat lorong, seniman, pengusaha lokal, hingga para pengambil keputusan. Mereka bergandengan tangan membangun citra kotanya yang lebih baik, lebih nyaman, dan lebih kreatif. Dan itu tertuang dalam konsep tata ruang kotanya yang mengacu pada compact city.

Perlahan tapi pasti, kesan Makassar sebagai kota yang “keras” mulai dikikis. Lorong-lorong ditata menjadi kawasan agrowisata dan kuliner. Duet Walikota Mohammad Ramdhan Pomanto dan Wakil Walikota Syamsu Rizal sepakat menata kotanya secara terpadu. Bahkan Makassar akan dibangun dengan kreativitas dalam konteks kota, yang tak hanya unggul di bidang kuliner dan juga di bidang teknologi informasi.

“Tiga tahun lalu sekitar 94.000 dari 17 juta penduduk masuk kategori miskin. Mereka tersebar di lorong. Hal ini menjadi alasan saya memajukan lorong-lorong menjadi agrowisata dan kuliner,” ujar Walikota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto saat ditemui iKreatif di rumah dinasnya.

Tidaklah mengherankan jika kota multietnis ini (Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja) terus menunjukkan eksistensinya di industri kreatif. Dukungan pemerintah kota menjadi push factor-nya. Gairah industri kuliner, fesyen, grafika,film, pun secara bergantian mengisi potensi ekonomi kreatif di kota seluas 175,8 km persegi dengan 1.700 lorong yang tersebar di 14 kecamatan dan 143 kelurahan.

Pembangunan ekonomi dengan konsep tata lorong menjadi andalan. Hal ini diakui oleh Wakil Walikota Syamsu Rizal yang mengatakan bahwa konsep itu adalah
dengan mengubah lorong bisa menjadi ruang kreatif yang produktif. Caranya adalah dengan menghidupkan sendi ekonomi masyarakat melalui sejumlah usaha seperti
kuliner, kerajinan, kesenian, dan bank sampah. “Mengubah wajah Makassar sebagai kota kreatif bukan perkara mudah,” ujar Syamsu Rizal.

Senada dengan itu, Rusmayani Madjid Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kota Makassar, mengatakan bahwa ekonomi kreatif memang tengah berkembang. “Saat ini kami sedang memetakan potensi-potensi ekonomi kreatif yang ada di sini hingga tingkat kecamatan. Saat ini kami fokus di bidang kuliner dan seni pertunjukkan,” ungkap Rusmayani. Katanya saat ini setiap kecamatan di Makassar potensi kulinernya yang sangat dominan.

Dukungan pengembangan kreatif tak hanya muncul dari regulator tapi juga dari sejumlah asosiasi pengusaha. Salah satunya dari Himpunan Pengusaha Pribumi
Indonesia (DPD HIPPI Sulawesi Selatan). Menurut Ketua DPD HIPPI Sulawesi Selatan, Andry S. Arief Bulu, organisasinya akan mengembangkan dunia usaha khususnya
di skala kecil dan menengah. Di Makassar sendiri, HIPPI juga akan fokus mengangkat ekonomi kreatif. “Kita coba bergerak di sektor kecil dan menengah. Sementara kalau bicara ekonomi kreatif, biar bagaimana pun pasti kita mendukung program industri kreatif yang skalanya nasional itu,” tegas Andry.

Dukungan serupa juga datang dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI Makassar). Menurut Andi Imran Mappasonda (Ketua HIPMI Makassar) potensi ekonomi kreatif di Makassar sedang bergairah. Hanya saja gejolak krisis membuat pasarnya menjadi mandek di pasar global. “Akhirnya saat ini kita dorong ekonomi kreatif itu di tingkat nasional. Kita juga mendorong agar orang lebih mengenal Makassar sebagai kota kuliner,” ujar Andi.

Kini busur panah kreatif sudah dilepas ke seluruh penjuru kota. Masyarakat pun juga sudah dibekali amunisi yang cukup. Menarik ditunggu seperti apa booming industri kreatif di Kota Anging Mamiri. Yang pasti lewat ekonomi kreatif, Makassar akan benar-benar tampil beda dan cerdas. Sesuai dengan tagline Kota Makassar; Sombere’ and Smart City. 





NEWSLETTER


creative-ads