-_mengarahkan_energi_ke_ekonomi_kreatif_20151229050147.jpg)
Teks: Rusli M. Tang
IKREATIFONLINE.COM. Sejak tahun 2008, Institut Teknologi Indonesia (ITI) telah mengubah orientasinya menjadi technology base entrepreneurship university atau perguruan tinggi yang menghasilkan wirausahawan berbasis teknologi. Langkah tersebut diambil sebagai respons bahwa lulusan perguruan tinggi harus mampu melihat peluang usaha atau menciptaan lapangan kerja. “Itu menjadi rohnya ekonomi kreatif. Jadi lulusan ini memiliki kreativias, memiliki daya inovatif dan bisa melihat peluang yang dibutuhkan masyarakat,” ujar Isnuwardianto tentang orientasi perguruan tinggi yang dipimpinnya.
Sejauh ini ITI telah mengambil peran strategis terhadap kemajuan ekonomi kreatif di Kota Tangsel. Di industri kuliner saja misalnya, ITI melalui teknologi pangannya secara berkala melakukan pembinaan kepada masayarakat Tangsel tentang cara mengolah makanan hingga bernilai jual. Sebut saja misalnya pengolahan telor asin dengan cara diasap. Atau membuat sari minuman segar yang terbuat dari buah belimbing wuluh asal Tangsel.
“Kami banyak bekerja sama dengan masyarakat serta Pemkot, misalnya memberikan pelayanan masyarakat untuk pengembangan potensi daerah melalui pendidikan dan pelatihan. Kami juga ada membina langsung misalnya pengrajin makanan sehat di Tangsel,” terang Isnuwardianto kepada iKreatif tentang kontribusi ITI terhadap pengembang ekonomi kreatif di Tangsel.
Tak sampai di situ. Bahkan ketika sang Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany menginginkan Anggrek (tanaman hias) dijadikan salah satu ikon Tangel, ITI pun mengambil peran cukup strategis. Yaitu menjadi penyuluh sekaligus pendamping petani anggrek. Lewat riset dan penelitiannya, ITI berhasil mengembangkan varietas anggrek asli Tangsel. “Selain mencari anggrek varietas asli Tangsel, kami juga menemukan teknologi untuk memperpanjang umur anggrek yang sudah dipotong (siap jual) dan diajarkan pada petani anggrek,” jelas Isnu.
Lewat pengabdian masyarakat, Isnuwardianto berharap bahwa institusinya kelak dapat menjadi garda terdepan dalam memajukan ekonomi kreatif di Tangsel. Apalagi katanya Tangsel ini memiliki karakteristik yang unik. Dari sisi wilayah, Tangsel menjadi penyangga Ibu Kota Jakarta. Di sisi masyarakatnya terbagi menjadi rural dan urban.
Untuk itulah Isnuwardianto mengimbau bahwa pengembangan ekonomi kreatif di Tangsel tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua stakeholder harus duduk bersamasama. “Tidak hanya konsep saja, tapi kita harus duduk bersama, melihat potensi bersama-sama, kemudian mengarahkan energinya secara bersama. Tangsel itu sangat potensial bagi ekonomi kreatif,” jelasnya.