
Teks: Erfendi Eka Putra
IKREATIFONLINE.COM. Industri kreatif berhasil membuktikan proporsi kontribusinya yang signifikan dan terus meningkat dalam pendapatan negara. Namun demikian, pengembangan industri kreatif di Indonesia memiliki beberapa kendala. Antara lain adalah permasalahan regulasi dan proteksi serta kurangnya pengetahuan tekhnologi dan inovasi yang dimiliki oleh para pelaku bisnis.
Dibutuhkan intervensi mendorong munculnya pioner-pioner baru dan mengembangkan sayap pelaku bisnis industri kreatif, yaitu pihak akademisi perguruan tinggi, Pemerintah, dan pelaku bisnis. Akademisi, memegang peran penting, mengingat akademisi sangat erat dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi penelitian.
Oleh karenanya, transfer pengetahuan, teknologi dan inovasi berikut pendampingan sangat relevan untuk pengembangan industri kreatif. Hal ini sekaligus menunjukkan komitmen akademisi perguruan tinggi untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional.
Hal tersebut dikemukakan Arief Yahya, Menteri Pariwisata pada acara jumpa pers Pasar Seni Institut Teknologi Bandung (ITB), akhir tahun lalu. Belakangan, pasar seni ITB memang memiliki urgensi dalam pengembangan ekonomi kreatif yang ada di Bandung.
Ketenaran pasar seni ini sendiri telah menggaung sejak tahun 1972 karena kesuksesannyamenciptakan ruang interaksi antara seniman dan pengunjung. Sayangnya, pelaksanaannya terkadang tidak memiliki ritmik waktu yang tetap. Bisa dilakukan dalam rentang waktu dua, empat, lima dan bahkan enam tahun sekali. Dan terakhir tahun 2014 lalu.
Namun demikian, Pasar Seni ITB sudah menjadi laboratorium bagi mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB untuk menyalurkan materi yang mereka dapatkan di bangku perkuliahan secara langsung dan nyata kepada masyarakat. ITB berhasil melakukan inkubasi ide-ide yang masuk lalu sisi marketing diberi penambahan
dan stimulus financial.
Kampus ITB menurut Yahya sudah menjadi salah satu kampus terbaik di Indonesia yang menyediakan sarana pertemuan antara supply produk orang kreatif di bidang seni dan demand dari para peminat seni. Seorang pengajar senior, Prabu Wardono, MDes, Ph.D yang secara konsisten memperkenalkan material rotan dalam desain mebel, mengakui bahwa modal berkembangnya industri kreatif di Bandung adalah karena banyaknya perguruan tinggi yang baik, salah satunya adalah ITB.
“Di seni rupa misalnya, iklim akademiknya sangat mendukung dan memang berbasis kreativitas,“ ungkap dosen interior design FSRD ITB ini. Menurutnya, ekonomi kreatif saat ini berjalan secara alamiah. Belum banyak intervensi nyata dari Pemerintah dan pengusaha, khususnya dalam melindungi kreativitas desain. Misalnya, masih minimnya dukungan biaya untuk riset serta kurangnya kesadaran pengusaha sebagai pengguna desain untuk memiliki model sendiri.
Pengusaha lebih senang mengerjakan desain dari pembeli karena sudah pasti laku dan tidak ada biaya untuk pengembangannya. Akhirnya membuat desainer lokal malas berkarya. Peneliti mebel, “Panel Alam Beraroma” itu berharap, perguruan tinggi harus didorong melakukan penelitian bekerja sama dengan pelaku usaha dan Pemerintah sehingga diharapkan dapat menghasilkan desainer-desainer muda yang kreatif.