Pentolan grup band The Fly ini tengah menjajal nikmatnya Bisnis kopi. Jika Permainan Gitarnya mampu menghipnotis telinga, akankah racikan kopinya Bisa mengundang rasa Penasaran untuk terus menyeruputnya?

IKREATIFONLINE.COM. Di tengah gempuran kedai-kedai kopi berlabel asing yang menghiasi Ibu Kota, kini mulai bermunculan warung kopi modern yang mengedepankan budaya lokal. Salah satunya adalah Super Gayo Coffee, yang digagas oleh Kin Aulia yang juga dikenal sebagai gitaris sekaligus vokalis band The Fly.
Tak ingin asal bisnis, Kin pun mendalami seluk beluk kopi dengan mengikuti Barista Course di Jakarta Selatan. Jadi jangan heran jika Kin kini juga lihai meramu kopi menjadi sajian yang nikmat. Jika bicara kopi lokal, maka kopi asal Aceh (Gayo) termasuk yang diandalkan negeri ini. Kecintaan Kin pada kopi muncul saat ia kembali tanah leluhurnya di Takengon, Aceh Tengah, 2013 silam. Di sana ia melihat saudaranya memasak biji kopi (roasting). “Dari situ saya melihat peluang bisnis dan membawa kopi tersebut ke Jakarta untuk dijual. Responsnya bagus,” tegas Kin yang tengah merilis single ketiga berjudul Indah Pada Waktunya bersama The Fly.
Dari sekadar menjual kopi bubuk kemasan asal Aceh Gayo, Kin meningkatkan bisnisnya membuka kedai kopi dengan brand Super Gayo pada November 2014. Berbeda dengan kedai kopi lain, Kin mengedepankan konsep kopi tradisional ala Aceh, yaitu kopi saring. “Kopi saring ala tradisional Aceh ini selain unik juga memberikan experience,” ungkap suami pesinetron Nova Soraya ini.
Di kedai kopinya yang berada di Wolter Bistro (Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan), Kin menyuguhkan open kitchen dimana atraksi pembuatan kopi saring bisa langsung disaksikan. “Banyak orang penasaran melihat atraksi pembuatan kopi, lalu datang dan mencobanya langsung,” ujar pria kelahiran 26 April 1975 ini.
Kreativitas musisi rock yang satu ini tak sekedar menghadirkan kopi saring, melainkan juga memperkenalkan kembali cara-cara tradisional meminum kopi ala Aceh. Salah satunya Kertup, yaitu minum kopi dengan menggunakan gula aren.
“Kertup ini cara minum kopi zaman dulu di Aceh dan ini eksperimen yang nggak ditemui di tempat lain,” kata Kin. Selain itu ada lagi Wine Syphon, dimana kopi yang diproses melalui filterisasi dan menghasilkan kopi dengan rasa yang cespleng. Selain kedua kopi itu, kopi olahan lainnya seperti Kopi Wing (telor) dan Sanger Espresso juga bisa menjadi pilihan teman bersantai di Walter Bistro yang telah menjelma sebagai tempat nongkrong anak muda di Jakarta.
Dengan konsep kedai kopi tradisonalnya, Kin berharap dapat mendapat pasar dari kalangan anak muda sekaligus dapat memberikan edukasi tentang kopi tradisional melalui cara penyajiannya. “Kopi arabika di sini juga bersahabat dengan asam lambung dan jantung,” ungkap Kin berpromosi.
Meski saat ini Kin mengaku fokus menjalani bisnis kopinya, namun urusan bermusik tetap ia jalankan. Termasuk menyiapkan single terbarunya di tahun ini. Lalu apa bedanya membuat kopi dan bermusik? “Bedanya cuma di penjiwaan. Kalau musik butuh soul, maka membuat kopi butuh skill,” tandas Kin yang juga ingin menjadi eksportir kopi.