
Teks: Erfendi Eka Putra
IKREATIFONLINE.COM.Masyarakat luas sudah pasti mengetahui dan bahkan mengidentikkan Bondan Winarno sebagai seorang yang berlidah “tajam” dalam mencicipi makanan. Ia pun didapuk sebagai pendekar kuliner dan bahkan disebut juga sebagai pelopor wisata kuliner di negeri ini.
Gelar tersebut tidak didapatnya secara instan. Pengalaman sebagai seorang wartawan yang sering tugas keluar negeri membawanya berkenala dengan berbagai cita rasa kuliner. Secara konsisten ia pun menjadi pencicip makanan berbagai selera. Dan jika kuliner yang dicicipnya dikatakan Maknyus, itu berarti rekomendasi kenikmatan darinya.
Bondan sadar bahwa potensi kuliner Nusantara sangat dahsyat. Sayang, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap budaya kulinernya sendiri masih sangat rendah. Padahal katanya, kekayaan budaya kuliner Indonesia lebih beragam dibandingkan dengan negara lain.
Atas dasar kesadaran dan kekhawatiran itu, Bondan yang sebelumnya sering menulis mengenai dunia periklanan dan manajemen beralih menjadi penulis budaya kuliner Indonesia di kolom Jalan sutra di situs Kompas Cyber Media. Selanjutnya ia bersama Wasis Gunarto (General Manager Kopitiam Oey) mendirikan milis Jalansutra, dan sempat mengisi program acara Wisata Kuliner di TransTV dengan tagline ‘Pokoe Maknyus’. Dari program acara tersebut, awareness Bondan terhadap budaya kuliner di Indonesia menular dan menjadi sebuah tren dan gaya hidup masyarakat Indonesia, yaitu tren wisata kuliner.
Kini, perkembangan bisnis kuliner di Indonesia semakin pesat. Bahkan kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Indonesia. Dunia kuliner jelas Bondan bisa menggerakkan perekonomian negara. Dia mengambil contoh Thailand, yang mencanangkan dalam waktu lima tahun akan ada 10 ribu restoran Thailand di seluruh dunia. Dan target itu tercapai dengan mudah hanya dalam waktu tiga tahun. Hebatnya lagi, dalam lima tahun, Thailand berhasil mewujudkan 20 ribu restoran Thailand di seluruh dunia. Dengan gerakan 20 ribu restoran Thailand itu, grafik ekspor bahan makanan Thailand meningkat. Jumlah wisatawan pun naik drastis.
Atas dasar ini, salah satu obsesi Bondan adalah membuat masyarakat Indonesia demam makanan daerah. Namun, usahanya tidaklah mudah. Ia bahkan bercerita tentang usahanya membawa kuliner daerah Bali ke Jakarta yang dinilai kurang berhasil. “Dua tahun saya coba buka cabang di Jakarta, sampai hari ini nggak berhasil,” ujar pria kelahiran 29 April 1950 itu.
Bondan juga mengatakan kuliner tradisional sudah mulai terpinggirkan di rumahnya sendiri. Lebih lanjut ia menyayangkan masyarakat yang belum juga sadar akan pentingya melestarikan pusaka kuliner Indonesia dengan lebih memilih menyantap makanan luar.
Minim Peran Pemerintah
Begitu pula dengan pemerintah. Ia menuturkan bahwa di luar negeri seperti Singapura misalnya, Pemerintah di sana sudah sadar jika mereka tidak melakukan sesuatu, maka kuliner tradisional dan jajanan pinggir jalan lama-kelamaan akan hilang. “Jadi pemerintahnya memberikan subsidi untuk mereka yang mau belajar masak makanan tradisional,” ujar pria berusia 64 tahun tersebut.
Ia pun mengeluhkan di era Pemerintahan Indonesia yang baru ini kuliner belum terlihat menjadi concern di kementerian mana pun. “Kalau dulu di pariwisata. Sekarang kementerian pariwisata nggak mengurus soal itu. Katanya mau diurus ekonomi kreatif tapi belum mulai- mulai juga,” tambahnya.
Padahal, ia mengatakan kuliner tradisional menjadi salah satu daya tarik wisata yang paling kuat dan destinasi wisata yang paling siap. Ia memberi contoh saat berkunjung ke suatu daerah, orang hanya datang ke beberapa objek wisata sebentar saja. Apalagi jika cuaca panas. “Tapi coba kalau mereka dikasih daftar kuliner khas daerah itu. Tiga hari tiga malam sudah kekenya– ngan tapi belum selesai mencicipi seluruh daftarnya,” ujar Bondan.
Bondan juga menghimbau kepada masyarakat dan Pemerintah agar tidak bergantung kepada orang-orang tua atau masyarakat tradisional dalam hal pelestarian kuliner. “Kalau kita hanya bersandar pada orang-orang tradisional, bagaimana ketika nanti mereka sudah tidak ada,” kritiknya.
Kendala tersebut jugalah yang membuat kuliner Indonesia sulit masuk ke pasar global. Pengusaha lokal katanya tidak tahu bagaimana kondisi pasar di luar negeri. Mulai dari kebiasaan, kesukaan, dan lain sebagainya. “Pengusaha yang cerdas tentunya harus bisa membaca kondisi tersebut. Lalu ia lakukan sedikit inovasi sehingga bisa diterima di luar negeri,” saran pemilik gerai Kopitiam OEY ini.
Nah untuk urusan itu, ia menyebut perlu campur tangan Pemerintah dengan cara membagi informasi atau pendampingan. Bondan memberikan contoh Brasil dan Thailand yang kini kulinernya semakin tersohor. Masakan asal negara itu bisa dengan mudah didapatkan.