Tuesday, 29 Aug 2017

17 November 2015

TEUKU ADIFITRIAN (TOMPI): JATUH CINTA ANALOG PHOTOGRAPHY

ADA LABEL BARU YANG MENEMPEL DARI SEORANG TOMPI. SETELAH SUKSES MENJADI SEORANG DOKTER DAN PENYANYI, KINI IA PUN SERIUS MENYELAMI DUNIA FOTOGRAFI.

TEUKU ADIFITRIAN (TOMPI):  JATUH CINTA ANALOG PHOTOGRAPHY

Teks: Rusli M. Tang

IKREATIFONLINE.COM. Malam itu, Tompi tampak larut dengan karya seni yang ia ciptakan. Namun karyanya kali ini bukanlah sebuah lagu atau aransemen musik. Melainkan karya seni fotografi. Kok bisa?

Ya, sejak setahun belakangan penyanyi jazz ini memang bergelut dengan urusan fotografi. Tak hanya sebagai juru potret, tapi ia memproses sendiri hasil jepretannya itu menjadi sebuah karya foto berkualitas. Yang menarik, karya foto hitam putih dihasilkan Tompi dengan menggunakan kamera film analog (manual) dan dicetak dengan teknik wet printing (hand printed). Inilah sisi lain seorang pria kelahiran Aceh, 36 tahun silam, yang selama ini dikenal juga sebagai dokter spesialis bedah plastik.

Pria bernama lengkap Teuku Adifitrian ini mengaku tak sekadar asyik memotret, tapi juga benar-benar menikmati proses mencetak foto. Akibat hobi dan mungkin menjadi profesi barunya ini, lelaki yang identik dengan topi jazz ini bahkan sampai menyediakan dark room (ruang gelap; tempat proses cetak film negatif ke kertas foto) yang posisinya bersebelahan dengan tempat praktik dokternya.

“Saya berangkatnya dari hobi. Hobi yang akhirnya membuat saya terpaksa serius,” ujar Tompi di sela acara pameran foto idfilm bertajuk “Lights and Shadows” di Jakarta. Tompi memang sedang “jatuh cinta” pada analog photography. Tidak biasa memang. Apalagi di saat era digital camera seperti saat ini. Namun ia punya alasan khusus. “Dulu saya termasuk yang menentang penggunaan kamera analog di era digital seperti saat ini. Namun setelah mencoba dan shoot pakai film tenyata hasilnya jauh lebih bagus dengan kamera film (analog—red),” terang musisi yang meroket namanya melalui album Bali Lounge dan solo albumnya.

Sebenarnya sudah sejak empat tahun lalu Tompi menggemari dunia fotografi. Namun baru setahun belakangan ini ia serius mendalami analog photograhy. “Mulai dari processing develop, dari negatif ke cuci negatif hingga menjadi gambar itu saya sendiri yang mengerjakan,” terang Tompi yang akhirnya melego sejumlah kamera digitalnya ketika memutuskan menggunakan analog camera.

Dan ternyata, kebisaan memotret tak hanya sebatas hobi saja. Tompi mengaku kadang mengerjakan pula foto komersial seperti foto prewedding dan foto portrait. “Saya ada beberapa menegerjakan foto preweddding milik teman. Ada juga yang minta dibikinin foto portrait serius ya saya kerjain. Itu yang berbayar dan lumayan menghasilkan,” kata Tompi yang menagku suatu saat mungkin akan kembali ke digital photography.

Lalu apa kesamaan antara menyanyi dan fotografi? Keduanya, kata Tompi, sama-sama terkait proses. “Proses menikmatinya itu sangat dalam sekali. Menyanyi pun bukan sekadar ambi megaphone lalu menyanyi, tapi ada prosesnya,” ungkap Tompi.

Menanggapi soal kreativits anak bangsa, menurutnya Indonesia itu gudangnya orang kreatif. Hanya tingal kesempatannya saja yang ada atautidak. “Makanya saya nggak heran kalau banyak orang Indonesia di luar yang sukses. Fotografer Indonesia yang terkenal di luar itu banyak dan menjadi fotografer fashion di luar itu banyak,” terang Tompi seraya menutup perbincangan.





NEWSLETTER


creative-ads