Tuesday, 29 Aug 2017

17 November 2015

YANG MUDA, YANG MEMBANGGAKAN

Sigap mentransformasikan kearifan lokal ke tingkat universal, Jagawana menjadi wakil pertama Indonesia di Leiden International Short Film Experience (Lisfe). Seperti apa muatan film karya sineas muda ini?

YANG MUDA, YANG MEMBANGGAKAN

 

IKREATIFONLINE.COM. Malam itu, nampak Svetlana Dea, sutradara film pendek Jagawana bersama rekannya Teguh Yusniwan, bersemangat melayani pertanyaan-pertanyaan dari penonton yang baru saja menyaksikan film mereka. Sampai batas waktu yang diberikan oleh panitia untuk sesi tanya-jawab, dua sineas muda lulusan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta tersebut, masih terus dihujani dengan beragam pertanyaan. Itu  mulai dari bagaimana ide film tersebut terbentuk, pesan apa yang ingin disampaikan, proses produksi, dan lain-lain.

Menurut panitia Leiden International Short Film Experience 2015, sesi tanya jawab ini merupakan yang berlangsung paling menarik dibandingkan dengan yang dilakukan pada film-film sebelumnya. Suatu petanda yang menggambarkan ketertarikan tinggi dari penontonnya. Film pendek Jagawana, mengisahkan tentang hubungan seorang anak perempuan dengan ibu tirinya. Anjani, si anak, pada awalnya selalu menampik berbagai kebaikan yang diberikan oleh ibu tirinya. Ia berkeyakinan bahwa tidak mungkin si ibu tiri bisa menggantikan figur ibunya. 

Dengan anggapan tersebut, apapun yang diperbuat oleh ibu tirinya selalu dianggap sebagai sesuatu hal yang buruk. Suatu saat, ayah Anjani yang seorang peneliti biologi, mendapat tugas untuk bekerja di lokasi yang letaknya dekat hutan. Di tempat itulah Anjani menjumpai kejadian yang aneh, namun peristiwa-peristiwa tersebut pada akhirnya mem memberikan kesadaran serta perubahan baru terhadap perilakunya. Svetlana dalam karyanya meramu ketidakserasian hubungan antara Anjani dengan ibunya, dengan dongeng atau mitos tentang penjaga hutan atau gunung yang konon akan menculik atau menyesatkan seseorang yang berperilaku buruk. Itu antara lain seperti halnya berbicara dengan kata-kata kotor, takabur, ataupun menyimpan niatan buruk saat  memasuki hutan. 

Dalam film Jagawana ini, Anjani bertemu dengan seorang nenek bertopeng yang kemudian menculiknya ke suatu tempat antah berantah. Si nenek juga menginginkan Anjani menggunakan topeng seperti yang digunakan oleh semua penduduk di tempat tersebut. Konflik terjadi, karena Anjani menolak kemauan si nenek. Anjani melarikan diri dan penduduk memburunya. Pada akhirnya, Anjani terkepung dan si nenek berhasil memasang topeng di wajahnya.  

Pandangan Anjani menggelap, kemudian terbangun, ia berada di hutan, ia kembali dalam kehidupan nyata. Pengalaman aneh yang menegangkan dengan si nenek di dunia antah berantah juga menyadarkan Anjani yang selama ini selalu beranggapan buruk terhadap ibu tirinya adalah perbuatan yang salah. Kemudian ia meminta maaf juga kepada ayahnya. Di situ, ada ramuan penceritaan yang mengangkat dongeng/mitos yang mengungkapkan pesan dari kearifan lokal, yang juga bisa serta dipahami secara universal. Hal ini yang merupakan bobot dari film Jagawana seperti apa yang disampaikan oleh Demet, salah seorang koordinator festival sekaligus menjadi salah seorang juri. 

Sesuai dengan tema Lisfe (Leiden International Short Film Experience) yaitu Beyond Borders. Selain itu, secara teknis penggarapan, memang mendukung. Pengarahan terhadap akting pemain, penataan sinematografi, tata artistik, dan penataan suara, mampu menggugah emosi serta membangun situasi dramatik.

Tidak mudah proses karya Svetlana Dea bisa terpilih sebagai Official Selection pada Leiden International Short Film Experience ini. Selain harus bersaing dengan sekitar 1.000 film pendek yang ber-asal dari 43 negara, juga melalui proses tahapan seleksi yang ketat, sehingga akhirnya beserta dengan sekitar 80 film lainnya lolos dan dianggap layak untuk dipertontonkan pada festival tersebut.\Cukup membanggakan pula karya sineas muda ini, karena untuk pertama kalinya dalam festival yang sudah tujuh kali diselenggarakan, Indonesia berpartisipasi dan juga mampu menunjukkan  prestasinya.  Semoga di tahun mendatang bisa tampil kembali sineas muda lainnya di pentas global. Semangat!

*Penulis:  Bambang Supriadi, Praktisi Perfilman dan Pengajar di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. 





NEWSLETTER


creative-ads