Di dunia fashion indonesia, nama Anne Avantie ?sudah menjadi brand yang eksklusif. Dari keterbatasan, ia muncul menjadi trendsetter busana kebaya berkelas. Namanya melambung hingga ke mancanegara.

IKREATIFONLINE.COM. Sederet prestasi telah diraihnya. Di antaranya yakni, Kartini Award tahun2004, 2005, dan 2008. Pemenang Ernst & Young Entrepreneurial Winning Woman Class Of 2011. Kemudian penghargaan bergengsi dari Forbes Magazine, terpilih sebagai Heroes of Philanthropy tahun 2013 (orang yang berperan besar dalam amal), sehingga namanya disejajarkan dengan Jusuf Kalla (saat menjadi Ketua PMI), Irwan Hidayat (pemilik Sidomuncul Grup), dan Tahir (pemilik Mayapada Group). Namun siapa sangka, sosok Anne ternyata berbanding terbalik dari kebanyakan fashion designer yang selama ini identik dengan kemewahan, serba gemerlap, dan eksklusif.
Wanita kelahiran 20 Mei 1964 ini sangat sederhana dalam menjalani kehidupannya. Dia masih melakukan pola hidup seorang ibu pada umumnya. Yakni, bangun pagi, menyiapkan kebutuhan keluarganya, pergi ke pasar belanja sayuran, memasak, dan melayani suami dan keluarga. “Dengan merasa bukan siapa siapa dan bukan pula menjadi pribadi yang istimewa, saya tetap memelihara kerendahhatian. Karena bagi saya itu adalah kunci utama yang akan membuat saya menjadi pribadi yang berkualitas,” kata Anne.
Terlahir dengan nama asli Sianne Avantie, dari pasangan Hari Alexander (pemilik bengkel variasi mobil) dan Amie Indriati (usaha salon kecantikan), Anne kecil harus rela hidup dalam kesederhanaan. Lantaran kondisi itu pula menyebabkan Anne hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SMA. Namun dia tak pernah merasa kecil hati dengan kondisi yang dialaminya.
Ketertarikan Anne pada dunia mode mulai terlihat saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu dia sudah mahir membuat hiasan rambut berbentuk pita yang kemudian dijual ke temantemannya. Dia juga sering membuat kostum panggung untuk grup vokal dan tari di sekolah hingga berbagai ajang hiburan lainnya di Solo.
Meski menyukai fashion, Anne tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang khusus mempelajari seluk beluk dunia desain. Semua pengetahuannya saat ini didapatnya dari belajar secara otodidak. Kariernya sebagai perancang busana dirintis sejak tahun 1989, sewaktu masih tinggal di sebuah rumah kontrakan. Dengan hanya ber bekal dua unit mesin jahit, Anne menjalankan usaha kecil tersebut dengan nama “Griya Busana Permatasari” dan menyewakan pakaian tari. Anne pun banyak merancang kostum penari dan berbagai busana malam
Hijrah ke Jakarta menjadi titik awal Anne dalam menggapai sukses. Setelah melewati proses berli ku, ia pun berhasil meraih sukses sebagai desainer kebaya terbaik. Tak hanya kalangan penyuka fesyen yang kepincut karya desainnya, kalangan “the have” dan para selebriti pun ikut dalam an trean jasanya.
Produk karya Anne memang terbilang eksklusif, karena dikerjakan secara handmade. Anne juga mengaku bahwa dalam membuat kebaya, terkadang idenya mengalir begitu saja. Kini, ada lebih 400 orang bergantung hidup di bawah payung Avantie Management yang terdiri dari 12 anak perusahaan. Mulai dari perusahaan fashion hingga kuliner. Di antaranya yakni, Anne Avantie Private Order, Batiken Ready to Wear, Anne by Anne Avantie Ready to Wear, Traditional Bag Kayrra Avantie, Inav, Nest’co the Bistro, dan Nest’cology.
Selain itu, Anne juga memprakarsai berdirinya Wisma Kasih Bunda (Yayasan Anne Avantie). Sebuah pelayanan kasih pada pasien Hydrocephalus, Astresi Ani, Tumor, Labiopalataschisis, bibir sumbing, dan penyakit yang memerlukan penanganan darurat lainnya.
“Saya tidak pernah bayangkan menjadi besar. Oleh sebab itu ketika saya mengalami kemajuan, saya berprinsip harus menjadi pribadi yang berarti bagi orang-orang di sekeliling terlebih dahulu. Saya mengutamakan potensi lokal atau penduduk di sekitar tempat kerja yang saya bangun sebagai sumber daya manusia yang menjadi nadi karya saya,” kata Anne.
Kunci sukses Anne di bisnisnya adalah memfokuskan pada pelayanan kepada pelanggan. Meski banyak kompetitor, bahkan ada yang menjiplak hasil karyanya, namun Anne tidak mau terlalu memikirkan dan ribut soal itu. Sebaliknya Anne malah menekankan kepada pelayanan personal tiap pelanggannya. “Saya merasa memiliki cara pelayanan yang menempatkan diri sebagai pelayan dan bukan sebagai Anne Avantie yang terkenal,” pungkas Anne.