
Teks: Erfendi Eka Putra Foto: Dok. Pribadi
Peserta International Creative Cities Conference (ICCC) yang terdiri dari unsur pemerintah kabupaten/ kota seluruh Indonesia, pengusaha, dunia pendidikan serta komunitas kreatif, memandang Makassar sebagai salah satu kota dengan perkembangan konsep kreativitas yang sangat pesat dalam tiga tahun belakangan. Berkat prestasi itu, di Malang, April lalu, peserta ICCC sepakat menunjuk Makassar sebagai tuan rumah penyelenggaraan ICCC ke-3 pada 2017.
“Sematan sebagai kota begal dan baku pukul lebih dulu melekat. Mengubah wajah Makassar sebagai kota kreatif bukan perkara mudah,” cetus Syamsu Rizal, Wakil Walikota Makassar. Karena itu kepercayaan ICCC lanjutnya merupakan kesempatan emas Makassar untuk terus berbenah, khususnya dalam membangkitkan ekonomi masyarakat.
Nah, salah satu program Pemkot Makassar adalah pembangunan ekonomi konsep tata lorong (gang). Konsep ini mengedepankan pendekatan ruang masyarakat terbawah, yakni mengubah lorong biasa menjadi ruang kreatif yang produktif. Dengan menghidupkan sendi ekonomi masyarakat melalui usaha kue tradisional lewat kuliner lorong, kerajinan, kesenian, lorong garden dan bank sampah.
Untuk program tata lorong ini, setiap kecamatan tentu akan berbeda-beda disesuaikan dengan keunggulannya. Ada kecamatan yang khusus untuk kesenian, kerajinan tangan, kuliner dan sebagainya. Kecamatan Panakkukang misalnya. Dipusatkan untuk kerajinan perak, panganan kue tradisional dan tradisi kesenian lokalnya.
Omset Bank Sampah Rp600 juta per hari
Selain program di atas, kreativitas yang dilakukan oleh Pemkot Makassar adalah intervensi dalam hal pengelolaan sampah dengan mendirikan bank sampah. Maklum, produksi sampah di Makassar sehari mencapai 700-800 ton. Sampah sejumlah, itu akan menjadi masalah jika tidak dikelola, namun menguntungkan jika dikelola lewat bank sampah,
yang tersedia di RW dan kelurahan, masyarakat dapat menukarkan sampah dengan kebutuhan sehari-hari seperti; beras, minyak goreng, air minum atau disimpan dalam bentuk tabungan.
Saat ini tercatat sebanyak 280 unit bank sampah aktif yang tersebar di kelurahan, dengan jumlah nasabah mencapai 16.000-an orang. Dari kegiatan mereduksi sampah itu,
omset yang didapat bank sampah bisa mencapai Rp600 juta sehari.
“Itulah ekonomi kreatif. Dari aspek sosial, bank sampah menjadi salah satu instrumen kami untuk menyelesaikan masalah sosial di kota ini. Masyarakat yang kemarin nganggur, kini sudah bisa isi waktunya dengan mengumpulkan sampah, bertambah penghasilannya, terjadi interaksi sosial antara nasabah dan kelembagaan didalam,” pungkas Ketua Palang Merah Makassar itu.
Program tersebut juga ditunjang dengan teknologi, lewat aplikasi timbangan online, sehingga jumlah, lokasi dan nilai sampah yang akan dijual dapat segera diinformasikan
ke bank sampah pusat.