
Teks: Rusli M. Tang | Foto: Ade Riyan Purnama
Kota Solo kembali berseri. Ini bukan slogan apalagi pepesan kosong. Itu terlihat dari meriahnya pembukaan Solo Great Sale oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Boleh jadi acara yang digelar selama sebulan penuh (1-29 Februari 2016) itu bakal menjadi pelatuk untuk mengundang masuknya arus wisatawan ke kota yang kaya akan sejarah dan budayanya ini.
Solo memang sudah melewati bebrapa fase sehingga mampu bangkit dari segudang permasalahnnya. Setidaknya kini wajah Solo bisa tersenyum lepas tanpa ada lagi raut muram. Para kreator di pentas seni, budaya, kuliner, kerajinan, dan sebagainya nampak bergairah. Industri Batik Solo yang dulu sempat terjerembab kini mampu bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi kreatif di sana.
Kreativitas menjadi kunci dari kota seluas 44 km2 dalam berbenah. Bahkan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo menjunjung tinggi kreativitas warganya. “Bahkan kreativitas pedagang mengais rejeki itu jadi inspirasi saya dalam mengembang Kota Solo dan tentunya saya tidak sendiri ada banyak kawan-kawan yang meng-create ekonomi kreatif,” kata pria kelahiran Surakarta, 13 Februari 1960 ini.
Dikatakannya bahwa kreativitas masayarakat juga tidak lepas dari Perda Kota Surakarta, yang merupakan kota budaya yang bertumpu pada bidang jasa dan perdagangan. Dengan adanya jasa dan perdangangan ini, katanya, jika tidak kreatif maka masyarakat Solo tidak bisa keluar dari jurang kemiskinan. “Itu yang menjadi salah satu semangat kami untuk melayani masyarakat,” ujar pria yang sempat menjadi tandem (wakil) Joko Widodo kala menjadi Walikota Solo (2010- 2012) sebelum Sang Presiden itu terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta (2012).
Menarik menyimak penuturan dan program yang akan dicanangkan oleh Walikota Solo ke-17 ini. Seperti apa terobosannya dalam memajukan ekonomi kreatif di seantero Solo. Berikut penuturannya kepada Erfendi Eka Putra dan Ade Riyan Purnama majalah iKreatif;
Kota Solo memiliki potensi yang besar dalam industri kreatif. Namun tanpa adanya dukungan Pemerintah Kota maka potensi itu menjadi biasa saja. Bagaimana Anda menyikapi hal tersebut?
Ya, saya selalu sampaikan ke teman-teman untuk membangun 5 Si. Untuk mencari kreativitas yang ada di Solo ini kita harus melakukan komunikaSi, lakukan koodinasi, pasti menemukan solusi. Setelah itu baru kita sosialisasi biar tahu bahwa ekonomi kreatif ini adalah soko gurunya Pemerintah Kota Solo dalam
mensejahterakan masyarakat. Dan terakhir, baru kita realisasi.
Kabarnya anak-anak muda kreatif di Solo juga sedang bergairah?
Dari pengembangan ini tentunya nggak lepas dari peran Mas David (David Wijaya-Ketua FEDEP-red) dan kawan-kawan dari Kadin. Yang agak keliatan lagi di Cangwit, anak muda kreatif sudah ada di pasar. Nanti akan kita kembangkan juga di Pasar Tanggul, Pasar Gedhe, itu adalah pasar tematik. Dan itu akan kami buat tidak hanya berhenti sebagai masyarakat ekonomi kreatif. Tapi juga menjadi individu-individu yang kreatif.
Langkah apa saja yang dilakukan untuk mencapai itu, misalnya dalam mendukung pengusaha kreatif yang banyak bergerak di UMKM yag notabene bermodal pas-pasan?
Saya mengajak kerja sama dengan sejumlah institusi atau komunitas dengan tujuan menjadikan para pelaku kreatif di sektor non formal supaya bisa berkembang. Salah satunya misalnya dengan kerjasama notaris agar bisa menerbitkan akte notaris (gratis) bagi masyarakat supaya bisa akses ke perbankan. Sehingga kita sebagai pelayan masyarakat di Solo ini dalam memberikan SAP/ TDP/SIUP bagi usaha mikro itu gratis juga. Sehingga pertumbuhan ke depannya indikatornya bisa jelas.
Lalu bagaimana dengan sektor pariwisata, apa ada sesuatu yang baru di-create?
Tentu. Misalnya Sungai PePe yang didesain dan yang nanti sebetulnya bisa menjadi andalan teman-teman untuk bergerak di water tourism. Nanti tinggal bagaimana potensi itu kita maksimalkan. Kita lebih menata kota yang kecil bisa menarik perhatian masyarakat dari luar datang ke Solo. Mulai dari berbelanja, makan, hingga menginap di Solo. Termasuk juga mendorong pembangunan waduk kecil di Tirtonadi yang permai itu sebagai wisata air. Lalu dari terminal Tirtonadi itu bisa dikembangkan dan mengajak masyarakat meningkatkan kesejahteraan sendiri.
Solo memiliki banyak talenta-talenta kreatif. Lalu sektor apa yang menjadi prioritas kota untuk mewujudkan Solo sebagai Kota Kreatif terbaik di Indonesia?
Kalau Tuhan mengizinkan, kami mempunyai mimpi mengadakan festival budaya. Dari festival budaya itu multiplier effect-nya kemana-mana. Begitu pun dengan sektor kuliner. Nah, budaya ini kan macam-macam, masyarakat harus tahu budaya itu jangan diartikan kesenian saja. Tapi budi dan daya, sikap dan perikalu yang harus ditonjolkan sebagai revolusi mental.
Lalu kapan festival itu akan dimulai?
Minimal tahun 2017 mulai ada terlaksana festival budaya yang digelar secara nasional dan masyarakat Solo yang dari bawah juga bisa tampil di situ. Tapi untuk menuju ke sana kita harus ada venue. Venue itu baru kita sounding ke sana-kemari. Di sana nanti potensi lain akan dikembangkan dan bisa jadi galeri seni dan lainlain. Termasuk museum keris, yang merupakan warisan leluhur ini perlu kita lestarikan.
Kami sempat meninjau pertunjukan Wayang Orang Sriwedari, nampaknya di sana membutuhkan sentuhan tangan-tangan kreatif?
Iya, sekarangkan lagi ada masalah hukum di sana. Sesuai UU Agraria bahwa tanah negara bebas itu bisa dimiliki siapa saja yang mau mengelola di sana. Untuk di venue Wayang Orang Sriwedari kami sudah punya desainnya. Cuma butuh waktu dan pendanaan. Mungkin nanti kalau selesai urusannya dan disidangkan di Mahkamah Agung, maka nanti akan kita benahi dan dimanfaatkan bersama untuk kepentingan masyarakat secara umum.
Solo identik dengan budaya dan tentunya adalah keberadaan Keraton Solo. Sejauhmana “konflik” internal tersebut berpengaruh pada kunjungan wisatawan dan Bagaimana peran pemerintah mengatasinya?
Kalau kita bicara keraton, itu mesti diselesaikan bersama. Karena Solo yang merupakan kota budaya ini salah satu tumpuan perekonomiannya dari sektor jasa dan pariwisata. Kalau kita tidak punya destinasi yang bisa menjual ya nggak akan orang datang ke sini. Saya berharap masalah ini bisa segera selesai. Dan komitmen pemerintah pusat tentang cagar budya itu sudah sangat komplit sekali. Mari kita berpikir bersama untuk kepentingan masyarakat banyak. Bagaiama me rumuskan kembali Keraton Kasunanan dan mangkunegaran Surakarta ini menjadi tujuan wisata. Dan ini pastinya butuh waktu.
Terkait dengan upaya menggairahkan ekonomi kreatif di seantero Solo, apakah pemerintah kota memiliki blue print atau mapping permasalahan dalam hal tersebut?
Waktu itu saya pernah menyampaikan pada sekda (Sekretaris Daerah) supaya menyusun RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan). Dengan RTBL itu kita jadi tahu kalau mau ke wilayah utara kota apa yang mau dikembangkan. Begitu pun di bagian utara barat apa direncanakan seperti apa. Namun paling tidak saya mau berupaya dulu.
Terkait infrastruktur, apakah ada rencana besar yang disiapkan dalam mendukung tumbuhnya ekonomi kreatif di Solo?
Ya jelas ada. Kita memiliki potensi di ekonom kreatif dan sedang berkembang. Tapi kalau kota ini tidak mempunyai jalan lingkar selatan ya percuma saja. Saya mendorong ini, jalan lingkar selatan ini yang akan melewati pinggir Sungai Bengawan Solo.
Banyak yang merekomendasi sentra-sentra ekonomi kreatif di Solo dapat diakses dengan kereta?
Betul. Dan dulu saya pernah mengusulkan pada pemerintah pusat agar kereta api ini bisa keliling dari Jebres lalu keliling Solo kota, lalu masuk lagi Jebres. Eksistingnya rel keretanya masih ada. Namun apakah itu memungkingkan, karena butuh biaya besar. Itulah yang jadi pertimbangan. Ya, mengajak masyarakat untuk menggunakan transportasi massal memang tidak mudah.
Anda punya resep agar ekonomi kreatif di Solo bisa berjalan seperti mimpi Anda itu?
Nah ini semua harusnya kita membangun lima budaya. Jadi kalau ekonomi kreatif mau berkembang tapi lima budaya itu tidak dibangun setiap individu maka tak akan jalan. Lima budaya yang saya maksud itu adalah Budaya hidup gotong royong, budaya memiliki, budaya merawat, budaya menjaga, dan budaya mengamankan Kota Solo dan isinya.
Mengapa hal itu menjadi syarat mutlak?
Bayangkan, kalau kita sudah punya sikap dan prilaku memiliki dan kebersamaan, maka tak ada istilah iri, dengki, cemburu, dan lain lain itu tak akan ada. Yang ada justru hanya rasa gotong royong, rasa memiliki fasilitas kota dan merawat sekaligus mengamankan Kota Solo. Dan itu bisa dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Kalau ekonomi kreatif tidak dijaga dengan lima budaya itu maka obor blarak (berantakan—red) jadinya. Kalau saya melihat rakyat Solo ini hanya butuh 3WMP. Yaitu; waras (sehat), wasis (pintar), wareg (kenyang), mapan dan papan. Itu jadi kebutuhan dasar solo dan rakyat Indonesia tentunya.