Sunday, 9 Jul 2017

09 June 2016

ENERGI KREATIF DI KAMPUNG JOKOWI

SOLO TERUS MENGGENJOT SEKTOR PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIFNYA MENJADI PUNDI PERTUMBUHAN EKONOMI. PEMERINTAH KOTA, PELAKU
USAHA DAN MASYARAKAT, KOMPAK MENDANDANI WAJAH KAMPUNGNYA JOKOWI ITU. 

ENERGI KREATIF DI KAMPUNG JOKOWI

Teks: Erfendi Eka Putra & Foto: Ade Riyan Purnama

Tumbuh dari ide-ide kreatif rakyat yang disokong pemerintahannya, Solo makin bersemangat membranding diri sebagai kota budaya yang kreatif. Dalam lima tahun tahun belakangan ini, banyak sekali festival budaya. Mulai dari Kirab Pusaka 1 Suro, Sekaten, Grebeg Besar, Grebeg Sudiro, Festival Jenang, Solo Great Sale, Solo Batik Carnival, Solo International Performing Arts dan lain-lain. Dua keraton di Solo, yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran menjadi sebuah magnet kuat bagi wisatawan untuk berwisata ke Solo.

“Solo terus mencuri perhatian Indonesia dan Dunia. Ekonomi boleh saja krisis. Namun orang-orang Solo tetap bersemangat membangun ekonominya. Orang di Solo ini terus menunjukkan kepada kita, kalau mereka berani dan bisa. Menunjukkan kepada Indonesia dan dunia, produk-produk kreatif yang bisa dinikmati,” puji Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, disela-sela pembukaan Solo Great Sale 2016, awal Februari lalu.

Bukan tambah alasan tentunya politisi dari PDIP itu melihat orang-orang Solo tampil bersemangat. Ia menilai kemampuan birokrasi, keguyuban kelompok usaha swasta dan masyarakat di Surakarta terbukti menyelesaikan persoalan yang dulu membebani kota ini.

Sudah bukan rahasia lagi, beban utama kota Solo dahulunya adalah menjamurnya kawasan kumuh. Hitungan kasarnya, ada 30 persen kawasan kumuh di
Kota Solo.

Kini, semua tuntas. ’’Target sudah terpenuhi di 2015 lalu, yaitu 100 persen akses sanitasi layak, 0 persen lingkungan kumuh, dan 100 persen kawasan perumahan (permukiman sehat, Red),” papar F.X. Hadi Rudyatmono, Walikota Suakarta itu mantap.

Di bawah kepemimpinan Rudy, pada 2013, Solo memborong penghargaan Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) oleh Kementerian Dalam Negeri. Solo dianggap berhasil menata kawasan kumuh, pedagang kaki lima, dan perkotaan sehingga menjadi juara untuk ketiga kategori tersebut. Solo juga meraih Wahana Tata Nugraha selama tujuh tahun berturut-turut sejak 2006.

Semenjak dipercaya menjabat Wakil Wali Kota mendampingi Joko Widodo periode 2005–2010 dan 2010–2012, Rudy adalah orang lapangan. Ia yang membantu Jokowi mendandani wajah Solo dengan sejumlah relokasi dan revitalisasi.

Kisah relokasi Pasar Klithikan yang legendaris itu misalnya, juga berkat ketelatenan Rudy merangkul pedagang. Demikian juga relokasi warga dari bantaran Sungai Bengawan Solo, dan pemindahan pedagang loak dari Banjarsari, juga berkat peran besar Rudy.

Hasilnya, duet tersebut tak hanya mempercantik 43 pasar tradisional dan mengembalikan citra pasarpasar itu sebagai tujuan wisata; melainkan juga telah menyulap
sekitar 8 kilometer persegi wilayah Solo menjadi kawasan terbuka hijau.

David R. Wijaya, pengusaha mebel dan Ketua Forum For Economic Development and Employment Promotion (FEDEP) Kota Solo, berpendapat kesuksesan Jokowi menata Solo adalah karena mendapat wakil yang pas. Mereka berdua dianggap sebagai pasangan yang lengkap: Jokowi dengan gagasan-gagasannya, ditopang oleh Rudy yang memiliki banyak pengalaman dan relasi di Solo.

“Pak Jokowi itu adalah orang dengan gagasangagasan besar. Dengan Pak Rudy, Pak Jokowi ibarat tumbu dan tutupnya,” kata David, pengusaha yang tampangnya sangat mirip dengan Jokowi tersebut.

Nah, ketika menggantikan Jokowi yang maju sebagai gubernur DKI Jakarta, Rudy makin giat berbenah. Ia tahu betul, ekonomi Solo sangat bergantung pada sektor jasa dan perdagangan. Karena tidak banyak industri besar di kawasan seluas 44 km persegi itu.

“Karena itu yang kita genjot bidang jasa dan perdagangan. Salah satunya ekonomi kreatif tingkat UKM dan UMKM, pedagang kaki lima. Kami dorong mereka bankable, kami juga giat mempromosikan produk-produk mereka,” ungkap wali kota yang juga kerap disapa Pak Berengos, saat ditemui di Kantor Walikota Surakarta.

Untuk memberdayakan UKM kreatif di Solo Rudy memiliki lima resep kunci yaitu 5 Si. Membangun komunikaSi, melakukan koordinaSi, mencarikan soluSi, melakukan sosialisasi untuk kemudian baru bisa realisasi.

Konsep itu dinilainya berjalan baik selama ini karena dukungan kuat dari asosiasi seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin), kalangan akademisi, Solo Creative City Network, FEDEP dan tokoh-tokoh terkemuka di Solo.

Membingkai Keunikan Kota

Menurut data Pemkot Surakarta, sejak dikelola menjadi kota kreatif, jumlah wisatawan terus melonjak. Sebagai gambaran, wisatawan yang berkunjung ke Solo pada 2013 dari target sebanyak 1,5 juta orang, terealisasi 1,6 juta orang dan 2014 dari target dua juta orang terealisasi 2,1 juta orang. Realisasi penerimaan pajak hotel dan restoran Kota Surakarta juga meningkat tajam dari Rp 16,3 miliat tahun 2009 menjadi Rp 38.2 miliar pada 2013.

“Diperkirakan sampai akhir 2015 lalu, Solo sudah memiliki sebanyak 7.000 kamar hotel berbintang dan non bintang. Jumlah itu sangat besar karena itu Pemkot Solo dan kalangan pelaku mesti kompak mempromosikan Solo dan membangun infrastruktur pendukung pariwisatanya,” cetus Purwanto Yudhonagoro, Direktur Utama Syariah Hotel Solo.

Daya tarik dan potensi pariwisata yang dimiliki kota Solo tambah Budi Prayitno, penggiat Solo Creative City Network sangat beragam. Masing-masing atraksi memungkinkan para pengunjung atau wisatawan untuk melakukan aktivitas yang berhubungan dengan seni, budaya, pengetahuan, belanja, makanan, batik dan sebagainya.

Kampung Batik Kauman dan Laweyan misalnya, kini telah berkembang dan turut mewarnai keunikan kota Solo. Wisata belanja di Pasar Klewer, Pasar Windujenar, Pasar Gedhe, Night Market Ngarsopuro, dan Gladag Langen Bogan Solo pun rasanya sayang untuk dilewatkan.

Taman Balekambang, Museum Radya Pustaka, Wayang Orang Sriwedari tak kalah menarik sebagai daya tarik wisata. “Namun wayang orang Sriwedari rasanya pekerjan rumah yang harus segera dibereskan. Pertunjukkannya monoton. Butuh orang-orang kreatif dan sentuhan teknologi di dalam,” cetus Irawati Kusumorasri, seorang tokoh penggiat seni
pertunjukkan.

Dari sisi kuliner tersedia jajanan khas Solo yang bbervariasi. Misalnya Serabi Notosuman, Nasi Liwet, Cabuk Rambak, Timlo Solo, es Gempol Pleret, Tengkleng, Sate Buntel dan masih banyak lagi. Siap memanjakan lidah pengunjungnya.

Akhirnya, tugas bagi seluruh elemen masyarakat di Solo, untuk mengelola, menjaga dan mengembangkan apa yang telah dimiliki Solo sebagai Spirit of Java. Bravo, Solo!

 





NEWSLETTER


creative-ads