
Teks: Erfendi Eka Putra Foto: Ade Riyan Purnama
Tujuan akhir dari semua itu adalah menjadikan Makassar sebagai kota cerdas yang layak huni, kunjungi, dan berinvestasi dengan masyarakatnya yang cerdas. Dengan cara pandang yang baru, H. Mohammad Ramdhan Pomanto, Walikota Makassar adalah nakhoda yang terus bergerak membangun kota seluas 175,8 km2 itu.
Salah satunya perang terhadap sampah. Mengusung prinsip bahwa kota ibarat manusia, Ramdhan yang sering dipanggil Danny itu melibatkan masyarakat dalam berperang dengan sampah. Dalam "gencatan senjata" atas sampah, hingga kini Dinas Kebersihan dan Pertamanan sudah membina serta mendampingi 280 unit bank sampah dan satu bank sampah induk. Total nasabah mencapai 16.000-an nasabah.
Akibat inovasinya tersebut, Danny meraih penghargaan Baksyacaraka dari Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat tahun 2014. Anugerah Baksyacaraka adalah penghargaan tertinggi pemerintah pusat atas upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan budaya kreatif dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif sebagai salah satu strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Nah, kepada tim Majalah iKreatif, Selasa 12/4, pukul 07.15 WITA di kediaman dinasnya, Danny menjabarkan berbagai program dan inovasi yang dilakukan selama hampir tiga tahun memimpin kota dengan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata 9% per tahun itu. Berikut petikannya:
Bisa Anda ceritakan apa saja yang sudah dilakukan pemerintah Kota Makassar untuk mendorong ekonomi masyarakat bertumbuh khususnya melalui kegiatan ekonomi kreatif?
Pertama yang perlu diketahui adalah ada tiga visi Kota Makassar. Yakni kota dunia, kota nyaman, dan kota untuk semua. Ekspresi kota dunia terletak pada pelayanan publik. Bagaimana warga yang bermukim di dalamnya merasa aman, dan nyaman saat beraktivitas di dalam maupun di luar rumah.
Lalu ukurannya apa?
Ukurannya cukup sederhana, warga kota dapat mengakses kebutuhannya dalam radius 2 km. Karena itu kami mengarahkan tata ruang Makassar mengacu pada compact city atau pola menyebar. Fasilitas publik dibangun tersebar, tidak berpusat pada satu titik. Hal ini memudahkan warga dalam mengakses fasilitas publik, dan memenuhi kebutuhan atau keperluan hidupnya.
Anda membangun ekonomi Makassar dengan konsep mulai dari tingkat lorong dengan ekonomi kreatif. Bisa dijelaskan?
Saya ini dibesarkan orang tua dan menikah di lorong sempit, jadi saya tahu betul persoalannya. Di Kota Makassar terdapat 1.700 lorong yang tersebar di 14 kecamatan dan 143 kelurahan. Tiga tahun lalu sekitar 94.600 dari 1,7 juta penduduknya masuk kategori miskin. Mereka tersebar di lorong. Hal ini menjadi alasan saya memajukan lorong-lorong menjadi agrowisata dan kuliner.
Kota Makassar saya bangun dengan kreativitas. Kreativitas itu dalam konteks kota. Jika ada solusi besar bisa dipecahkan dengan satu tindakan kreatif. Kami tidak sekadar membangun produknya tetapi sistemnya yang harus kreatif.
Namun kalau bicara produknya maka produkproduk unggulan maka kami unggulnya di kuliner dan informasi teknologi. Ada rumah software banyak komunitas IT. Bahkan ada buruh yang berhasil bikin aplikasi dan mendapatkan penghasilan ribuan dollar sebulan. Produk makanan secara gastronomi, misalnya secara nama mirip, namun rasa berbeda.
Menciptakan rasa itu butuh kreativitas yang tinggi sekali.
Produk pakaian, di sini sudah menciptakan batik lontara. Ini original dari Makassar. Demikian juga dengan pelaku seni grafis tidak kalah dengan daerah lain. Ada banyak pembuat film yang kita punya bahkan mereka rajin mempromosikan Makassar ke luar negeri.
Tetapi karya-karyanya kurang terekpos?
Kami tidak menganut super ekspos seperti daerah lain. Tetapi eksploit (pemanfaatan-red). Karena kreativitas itu adalah gerakan masyarakat bukan perorangan. Ujungnya adalah pemanfaatan secara ekonomi seperti adanya lorong garden, lorong kuliner dan reduksi sampah lewat bank sampah. Kegiatan ini yang kemudian produktif menghasilkan uang.
Bisa Anda jelaskan konsep bank sampah yang menjadi model untuk diadopsi secara nasional?
Bank sampah itu adalah sebuah produk konsep dalam ekonomi kreatif. Produk sampah kami sehari sampai 1.200 ton/hari. Itu juga berawal dari lorong. Saya membuat kantongisasi sampah dengan ukuran sendiri. Dibagi dua, untuk yang miskin dan kategori tidak miskin. Masing-masing dapat 4 yaitu orang miskin 4 kantong dan non miskin 4 kantong.
Khusus yang miskin warnanya sendiri dan dapat ditukar beras dengan satu kantong sampah jika dijual di bank sampah dia dapat beli gas, beras, air bersih dan lain-lain sesuai kebutuhan dia. Atau dia bisa tidak ambil uangnya jadi tabungan.
Sedangkan untuk yang non miskin warnanya hijau, diambil pemkot dan dikelola oleh pemkot di bank sampah pusat dan dana hasil pengelolaan diberikan untuk kesejahteraan pekerja kebersihan. Ini adalah terobosan yang dilakukan oleh Pemkot Makassar. Mobil sampahnya juga saya desain secantik mungkin. Mobilnya pakai GPS. Pemkot terus memnyempurnakan prosedur dan melakukan sosialisasi bank sampah ke RT dan RW. Sekarang sudah ada 281 bank sampah di Makassar. Dari 3.000 bank sampah di Indonesia, 10% berasal dari Makassar.
Pendapatan masyarakat dari sampah ini?
Luar biasa. Saya sendiri tidak menyangka. Satu kali timbang masyarakat bisa ada yang dapat Rp2 juta. Bahkan sopir angkutan sampah yang awalnya protes akhirnya menyadari manfaat dari bank sampah ini, mereka bisa dapat penghasilan sampai Rp8 juta. Sekarang kami sudah ada 250 UKM sampah yang memiliki badan usaha resmi. Delapan di antaranya sudah dapat KUR sampai Rp50 juta. Target saya, satu RW mempunyai 1.000 bank sampah supaya masyarakat yang jadi pengelola mandiri dan sadar.
Sampah tersebut dijadikan produk olahan apa saja?
Macam-macam. Pemkot bikin yang namanya Tempat Pembuangan Akhir bintang 5. Kami memberikan standar bintang untuk menggambarkan pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan teknologi. Kami buat semacam realestate dalam area seluas 26 hektar. Sampah ini di tata dan ada yang akan dibakar secara aman. Ini produk kreativitas. Di lokasi itu ada taman lalu lintas. Bisa untuk latihan setir truk, mobil, drag race, bisa untuk sepak bola, jogging track bahkan kamu akan membangun universitas khusus sampah.
Maksudnya?
Ya untuk belajar bagaimana masyarakat sejahtera lewat sampah. Banyak yang mengapresiasi. Koran-koran nasional semua meliput TPA bintang 5 kami. Bahkan jadi lokasi pelantikan pejabat. Itu yang namanya creativity, fakta masyarakat dan pejabat belajar dari sampah.
Pendanaannya?
Pada intinya pengelolaan sampah masyarakat itu adalah tanggung jawab pemerintah. Nah dengan sistem bank sampah bisa dikatakan minim budget. Agar masyarakat berminat mengelola bank sampah, mereka diberikan bantuan modal. Dana ini akan menjadi modal awal bagi pengelola untuk membayar setiap sampah yang dibawa oleh nasabah.
Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah nasabah dan produksi sampah di setiap bank sampah. Saat ini harga 1 kilogram sampah yang sudah dipilah sekitar Rp8.500. Sekitar 85 persen sampah bisa dipilah dan diolah di bank sampah, sehingga yang masuk ke TPA hanya sekitar 15 persen.
Berapa target pertumbuhan ekonomi khususnya dari sektor ekonomi kreatif per tahun?
Target GDP Makassar the highets 8%. Target GDP growth 6%. Tetapi kalau pertanyaan Anda tadi berapa besar kontribusi dari ekonomi kreatif sendiri saya bilang belum diukur. Tetapi dapat disimpulkan penyebab Makassar menjadi yang tertinggi di Indonesia karena orang masuk Makassar untuk mencoba makanan dan hospitality-nya.
Soal komunitas kreatif di Makassar. Bagaimana Anda menghimpun mereka?
Kami mempersatukan seluruh seniman, melakukan deklarasi, komunitas dibina oleh pemkot. Pemkot juga menantang para seniman, contoh pematung untuk membuat patung mengenai cerita tradisional Laga Ligo. Cerita I La Galigo itu seperti kisah Mahabrata.
Kemudian tanggal 8 September nanti ada Makassar International Eight Festival and Forum (F8) yang merupakan singkatan dari Film, Fashion, Food, Flowers, Fine Art, Folks, Fusion Jazz, Fixion Writer. F8 adalah wadah untuk menyatukan potensi besar Makassar yang selama ini cenderung terpisah-pisah. Dengan demikian semua kekayaan yang kita miliki dikolaborasikan jadi satu dalam sebuah festival tahunan yang akan membawa manfaat besar bagi kota ini.
Tujuan akhir F8 tersebut?
Setelah event ini berjalan Pemkot kemudian melibatkan para pengusaha. Bikin event dan produk bersama. Misalnya dari Batik Lontara dibuat berbagai produk, Pemkot bikin MURI untuk pisang ijo terpanjang di dunia. Sesuai visi kami mewujudkan kota dunia (Makassar) yang nyaman. Satu anak, satu talenta, satu anak satu tarian, satu anak satu olah raga di setiap sekolah dari s/d sampai SMA. Brand Kota Makassar adalah kota kreatif yang dibangun oleh masyarakat yang dimulai dari lorong. Kota kami butuh orang pintar, orang cerdas, orang kreatif. Menurut saya jika persoalan besar masyarakat bisa diselesaikan dengan cara sederhana dan mudah itulah kreativitas.