Thursday, 22 Dec 2016

23 November 2015

IRVAN A. NOE’MAN: INDUSTRI KREATIF IBARAT MATA UANG BARU

“SUATU KOTA JIKA INDUSTRI KREATIFNYA SEIMBANG, MAKA KOTA ITU AKAN MEMILIKI KARAKTER BERWIBAWA. SENI ITU PRODUK BUDAYA, PUNYA
KARAKTER KOTA”

IRVAN A. NOE’MAN: INDUSTRI KREATIF IBARAT MATA UANG BARU

 

Teks: Ade Riyan Purnama

IKREATIFONLINE.COM.  Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) adalah salah satu lembaga yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada tanggal 7 Juni 1968. Tugas dan fungsi DKJ adalah sebagai mitra kerja Gubernur Kepala Daerah Propinsi DKI Jakarta untuk merumuskan kebijakan guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Propinsi DKI Jakarta.

Dalam satu kesempatan, iKreatif Magazine berbincang dengan dengan Irvan A. Noe’man yang saat ini diberi mandat sebagai Ketua Bidang Administrasi dan Keuangan DKJ. Ia pun membeberkan ceritanya tentang industri kreatif yang erat kaitannya dengan DKJ dan Indonesia. ”Tanpa kita sadari sesungguhnya tujuan tersembunyi dibalik pembentukan DKJ oleh Ali Sadikin adalah untuk menyeimbangkan seni kreatif dan seni hiburan di Jakarta. Seni kreatif dan hiburan adalah industri kreatif itu sendiri. Suatu kota, jika industri kreatifnya seimbang maka kota itu akan memiliki karakter berwibawa. Seni itu produk budaya, punya karakter kota,” ujar Irvan mengawali perbincangan kami.

Industri kreatif, masih cerita Irvan, sesungguhnya sudah lama muncul. “Sejak tahun 70-an orang sudah mulai berkecimpung dalam industri kreatif. Hanya saja baru jadi pembicaraan mainstream di tahun 2006. Dan masuk dalam agenda politik di tahun 2009, sampai akhirnya masuk dalam kementerian dan Undang-undang, “ paparnya menjelaskan.

Irvan yang kesehariannya ada di Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai kantor dari DKJ, bercerita bahwa di dalam TIM industri kreatif berkembang bersama orang-orang kreatif di dalamnya. “Ada anak-anak tari yang menggelar produksi tari di teater kecil. Atau anak teater yang membuat pertunjukkan teater, juga komite lainnya yang terus berproduksi. Itu semua adalah produksi kreatif yang ada di dalam TIM dan dikelola oleh DKJ,“ imbuhnya.

Irvan melanjutkan, bahwa sesungguhnya DKJ sendiri dalam mukadimahnya sudah berperan terhadap industri kreatif di dalam TIM. DKJ mengembangkan industrikreatif di dalam TIM dari karakter dan embrio para senimannya. Karena seni adalah keseimbangan dan akhirnya selaras dengan industri kreatif itu.

Pria yang menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Desain ini bercerita bahwa sejak awal ia sudah sangat tertarik terhadap segala bentuk kreativitas. “Sejak awal saya percaya bahwa kreativitas bisa bermanfaat bagi masyarakat pembuatnya,“ ujarnya. Irvan menganalogikan bahwa kreativitas adalah mata uang baru yangtidak akan pernah terkena dampak fluktuasi dan pengaruh apapun. Dan selayaknya masyarakat Indonesia bisa mengembangkan industri kreatif, sebab industri ini berkaitan erat dengan inspirasi. Dan Indonesia adalah gudangnya inspirasi itu sendiri. Dari sabang sampai merauke, dengan jutaan suku dan budaya, adat dan seni masing-masing daerah adalah kekayaan inspirasi yang seharusnya menjadikan kita dengan mudah mengembangkan industri kreatif. “Kita harus memanfaatkan kekayaan tersebut bukan hanya sebagai produk budaya semata, tapi bisa disalurkan hingga menjadi kekayaan ekonomi,“ ujar Irvan tangkas.

Menurutnya, industri kreatif sudah memberikan kontribusi terhadap bangsa sekitar 7%. Irvan beranggapan, jika itu bisa di manage dengan lebih baik maka prosentasenya bisa naik dan lebih besar lagi. Sebab, yang saat ini menjadi kekayaan terbesar Indonesia (minyak bumi—red) suatu waktu bisa habis. Dan jika itu terjadi yang dimiliki Indonesia tinggal hasil budaya. “Itulah sebabnya seharusnya kita peduli pada pengarsipan. Kita itu teledor pada arsip, sehingga akhirnya kehilangan kekayaan budayanya sendiri,“ tegasnya.





NEWSLETTER


creative-ads