Anak muda menjadi penggerak ekonomi di kota Bandung. Lantas apa strategi Ridwan Kamil menggerakkan potensi anak muda yang memiliki energi tinggi dan "hobi begadang" tersebut?

IKREATIFONLINE.COM. Sejak September 2013 ia diangkat sebagai orang nomor satu di Kota Kembang. Arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan University of California Berkeley ini pun melakukan sejumlah gebrakan. Salah satunya adalah menggairahkan industri kreatif sebagai ikon Bandung sekaligus penopang pundi-pundi warga kota.
Asa terhadap sosok Ridwan Kamil sebagai tokoh perubahan di Kota Bandung mulai terwujud. Pelan tapi pasti wajah “Paris Van Java”, bersalin rupa. Taman dan lingkungan di Bandung tampak tertata, bersih, dan rapi. Masyarakat bergairah, peduli, dan antusias menjaga wilayahnya. Di sisi lain, gejolak kawula muda di ranah kreatif juga kian berkobar.
Ditemui di Pendopo (kediaman dinas walikota--red) pria yang akrab disapa Kang Emil ini berbagi cerita tentang keinginannya mewujudkan Bandung menjadi kota kreatif tingkat internasional. Berikut petikan wawancara Erfendi Eka Putra dan Choky (fotografer) dengan orang nomor satu di Kota Bandung ini:
Apa mimpi anda terhadap kota Bandung?
Banyak sekali. Pertama, saya ini lahir, besar, dan dapat sekolah di Bandung. Jadi cintanya tidak bisa ke lain hati. Kedua, Bandung itu secara kasat mata, fisik, masih banyak masalah. Tapi secara SDM orang-orangnya hebat, isinya anak muda produktif. Tingkat kreativitasnya kelas dunia. Saya mau ciptakan Bandung sebagai “Kota Bahagia”. Penduduknya serba berkecukupan, akses pendidikan, kesehatan dan ruang-ruang publik. Indeks kota bahagia, bulan lalu (Februari 2015) skornya 73 versi BPS, artinya happy society. Kalau di atas 80 artinya sangat bahagia. Di Bandung ada comment centre. Ruangan itu saya bisa memonitor apa yang dibicarakan masyarakat Bandung. Jika daerah lain tamannya dipagari saya tidak. Saya tidak suka pagar. Kota itu harus terbuka. Kini perilaku orang buang sampah juga berku- rang. Kuncinya ada pada desain. Kalau kita desain ruangan kota itu dengan tepat maka bisa mengurangi kriminalitas.
Jadi bagaimana progres untuk mewujudkan hal tersebut?
Jadi, saya ini sekarang ingin berjuang keras dalam lima tahun bagaimana untuk membangun Bandung. Kalau SDM bagus ketemu kota bagus ini kan yang disebut juara. Mimpi saya dalam jangka panjang, saya ingin Bandung menjadi “Kota Ekonomi Kreatif”. Jadi, apa pun yang berhubungan dengan ekonomi kreatif pasti saya dahulukan. Baik dalam bentuk pendidikannya, kawasannya, SDM-nya, event, dan lainnya.
Artinya ini kesempatan anda setelah jadi birokrat mewujudkan mimpi tersebut?
Benar. Sekarang kesempatan terbaik. Bisa berbuat lebih baik, lebih banyak. Dulu berada di pinggir, hanya bisa berteriak dan bergerak terbatas. Sekarang saya sopir. Saya harus menggerakkan mesin, menjadi mesin perubahan. Bagaimana supaya mesin itu bisa jalan, bergerak cepat. Dan bergeraknya harus dengan karakter lokalitas karena ada studi dulu sebelum melakukan keputusan.
Bagaimana dengan daya dukung kota Bandung?
Di Bandung ini sebagian besar adalah anak muda. Karena itu energinya tinggi. Hobi begadang, 60% di bawah usia 40 tahun. Dan mereka berpendidikan. Di Bandung perguruan tinggi saja ada 50. Ditambah faktor cuaca yang nyaman membuat orang sering berkumpul sehingga tingkat tolerasin- nya tinggi dan terjadi perbincangan-perbicangan yang cocok bermuara jadi kelompok. Ada kelompok musik, ada kelompok bisnis, dan lain-lain. Semua berangkat dari kesamaan ide.
"KARENA SEBAGAI PEMIMPIN, SAYA ITU MENGAJAK BUKAN MEMERINTAH. BUKAN TUNJUK TANGAN, TETAPI TURUN TANGAN"
Nah, dengan nilai sosiologis itu saya mulailah gagasan-gagasan. Yaitu kalau bikin acara selalu mengajak bersama-sama. Kita mengadakan kerja bakti bersama-sama se-Bandung. Saya lagi ngetes seluruh kota. Dan berhasil. Itulah nilai-nilai Bandung yang masih terjaga. Orang suka gotong-royong. Partisipasinya tinggi.
Resepnya menggerakkan partisipasi masyarakat?
Karena sebagai pemimpin, saya itu mengajak bukan memerintah. Bukan tunjuk tangan, tetapi turun tangan. Itulah prinsipnya. Dalam industri kreatif juga sama. Industri kreatif itukan berbasis ide. Siapa yang idenya brilian, bagus, bisa diterjemahkan menjadi nilai ekonomi maka itu akan menjadi ekonomi kreatif.
Bisa cerita awalnya bagaimana anda berhasil membuat ekosistem lahirnya ide dan suasana kreatif dI Bandung?
Pertama, anak-anak muda Bandung itu hanya perlu tempat atau ruang-ruang bertemu. Makanya seperti BCCF (Bandung City Creatif Forum) adalah contoh ruang bertemu sesama pelaku. Kedua, mereka butuh transfer knowledge. Maka perlu pencerahan, sering seminar, pameran. Ketiga, harus ada ruang-ruang berekspresi. Ruang jualannya, pasar seninya. Ini kita sebut dengan ekosistem industri kreatif tadi. Ada budayanya, ada infrastrukturnya kemudian ada sisi e-commerce. Jadi, kultur, infrastruktur dan e-commerce harus jadi segitiga sama sisi. Saling menunjang. Ada budaya, e-commerce tidak ada, yang terjadi senimannya tidak makmur. Ada e-commerce, tapi tidak ada budaya maka tidak ada semangat mencipta.
Kami juga menyiapkan Bandung Teknopolis, jadi orang butuh buka kantor di mana tempat barunya sudah kami siapkan. Kami juga lagi menyiapkan kreatif hub, di mana orang bisa pameran produknya di situ. Bisa ada kelas antara entrepreneur yang sukses kepada yang masih baru. Ini memotivasi agar yang namanya anak-anak muda ini terjun ke entrepreneurship di usia yang muda dengan dibantu infrastrukturnya oleh pemerintah.
Sekarang kita sedang menyiapkan 15 pasar tematik. Ada pasar batik, pasar keramik, pasar buku, pasar burung, dan lain-lain sehingga produk creativity bisa dijual oleh kelompok masing-masing. Lokasinya sudah ada. Kami hanya merombak pasar-pasar yang selama ini generalis jadi pasar spesialis.
Menarik, apakah cara seperti ini dapat dIterapkan oleh pemerintah daerah lain?
Belum tentu. Kalau saya bukan pemimpin Bandung maka gaya ini tidak bisa dibawa begitu saja ke kota lain. Gayanya harus berbeda. Saya bergerak dengan kekuatan yang ada. Di daerah lain bahan-bahan dasarnya mungkin berbeda.
Menurut anda keberhasilan Itu karena penduduk Bandung lebih homogen?
Bukan, justru sangat heterogen. Karena banyak sekolah di Bandung, orangnya datang dari mana-mana. Karena heterogen, orangnya toleran. Kalau homogen biasanya tidak toleran. Kalau heterogan open society, terbuka terhadap gagasan. Makanya di Bandung ide itu lebih eksperimental. Yogyakarta kadang-kadang lebih skill full, lebih master. Tetapi untuk ide-ide yang mendobrak, Bandung lebih banyak. Boleh cek sejarahnya, pemusik-pemusik heboh dari Bandung, musik metal terbesar sebagian dari Bandung.
Apa saja tantangan anda dalam membina industri kreatIf, atau malah selalu mulus?
Pasti selalu ada. Hal itu lebih pada persoalan mereka yang diajak dialog tidak paham tujuan jangka panjang. Mereka mikirnya jangka pendek. Akibatnya gagasan-gagasan itu tidak maksimal. Tetapi dengan terus berkomunikasi akhirnya bisa. Contoh sederhana saja, saya bikin taman tematik, itu disangkanya saya hanya bikin taman. Padahal bikin taman karena mudah dan murah.
Sekarang saya mendesentralisasikan power saya ke camat. RW-RW dikasih anggaran Rp100 juta per tahun. Di situ mereka harus berekspresi. Karang taruna se-Bandung dikasih Rp15 miliar setahun. Supaya mereka bisa pakai untuk berekspresi.
Anda sering menyebutkan Bandung akan menjadI kota kreatif kelas dunia. BIsa dijelaskan seperti apa itu?
Iya. Langkah itu sudah dimulai. Apalagi Badan Ekonomi Kreatif sudah menetapkan Bandung jadi kota percontohan kota kreatif di Indonesia. Menurut saya apa pun butuh proses. Saya optimis dalam waktu dua tahun Kota Bandung akan menjadi contoh kota kreatif kelas dunia.
Definisi ekonomi kreatif tingkat dunia tidak hanya berkutat pada potensi lokal. Dalam enam bulan ke depan, kami akan bikin restoran Bandung di Korea. Ada pameran wisata Bandung di sana. Orang Korea sambil makan makanan Indonesia ada pengetahun tentang Indonesia dan beli produk kreatif. Artinya kita siapkan agar tak jago kandang.
Dari sisi pendanaannya bagaimana?
Kita sebar di berbagai dinas sampai di atas Rp50 miliar. Kalau untuk seperti pasar-pasar tematik bekerjasama dengan swasta sampai Rp500 miliar, itu belum lagi proyek Bandung kreatif. Kalau produknya keren tidak susah. Minggu lalu saya kedatangan venture capital dari Amerika, mereka mau modalin sepatu Bandung. Namanya brodo. Desainnya dipantau karena sudah masuk selera dunia. Keunggulan seperti itu yang saya mau perbanyak. Pemodal-pemodalnya juga campur dengan pemodal dunia. Go global.
Berapa stimulus ekonomi yang dI harapkan dan berapa tenaga kerja yang terlibat dalam industri ini?
Besar sekali. Sekarang ada 13 sektor. Boleh dibilang hampir 40 persen pergerakan ekonomi berasal dari sektor ini. Lima besarnya adalah fashion, kuliner, musik, teknologi informasi, dan desain. Dan jumlah tenaga kerjanya juga ribuan, sebagian besar anak muda.
Sekarang berapa sumbangan ekonomi dari sektor ini?
Growth ekonomi Kota Bandung menjadi salah satu yang terbaik di negeri ini, sebesar sembilan persen. Dan bisa naik double digit jika sektor ini terus digerakkan. Ada namanya Bandung Technopolis. Konsepnya buat industri kreatif dengan basis information and communication technology (ICT). Kami sudah hitung Bandung Technopolis bisa menghasilkan 400.000 lapangan kerja baru.
Ada slogan Bandung kota juara. Bagaimana kemudian industRi kreatif berperan di dalamnya?
Bandung juara itu slogan untuk menjadi central off excellent. Artinya di Bandung kalau berkarya jangan setengah-setengah. Karyanya harus keren. Barang jelek tidak boleh ada. Bandung ini persis sperti Singapura, tidak punya sumber daya alam, tidak punya sumber daya energi juga. Bandung cuma punya sumber daya manusia. Jadi, bisnis di Bandung adalah bisnis ekonomi kreatif seperti fashion, kuliner, desain, tapi bukan industri-industri yang berskala besar seperti Bekasi dan Tangerang. Bandung juga bukan kota jasa keuangan, karena sudah diambil Jakarta, jadi Bandung lebih ke ekonomi kreatif.