Sunday, 30 Jul 2017

06 October 2015

SANG INOVATOR EKONOMI KREATIF TANGERANG SELATAN

Sadar akan kondisi Tangsel yang minim sumber daya alam (sda), Airin terus berupaya menggali potensi sumber daya manusia (sdm) untuk mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif. 

SANG INOVATOR EKONOMI KREATIF TANGERANG SELATAN

 

IKREATIFONLINE.COM. Keseriusan pemerintah dalam menggairahkan ekonomi kreatif, semakin menjalar ke daerah-daerah di Nusantara. Tak terkecuali di Kota Tangerang Selatan, Banten. Di bawah komando Airin Rachmi Diany, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kini menjelma menjadi salah satu kota paling kreatif dan memiliki pertumbuhan ekonomi kreatif yang cukup pesat.

Tidak dipungkiri memang, semarak dan gairah sektor ekonomi kreatif di Tangsel dalam beberapa waktu belakangan ini sangat dipengaruhi oleh sepak terjang sang Walikota cantik kelahiran 1976 ini. Maklum, Puteri Pariwisata & Puteri Favorit Pada Pemilihan Putri Indonesia Tahun 1996 ini seakan tidak pernah lelah apalagi berhenti dalam melakukan inovasi dan mendorong ekonomi kreatif di Tangsel.

Berbagai gebrakan pun dilakukannya untuk menggali dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif dan inovatif di kota (wilayah—red) termuda Provinsi Banten tersebut. Bagi ibu dari dua orang puteri ini, Pemerintah dan pelaku ekonomi kreatif harus terus berkreasi dan berinovasi untuk menciptakan produk yang terbaik, sehingga dapat diterima pasar dalam dan luar negeri.

 

“Tidak hanya pelaku, tapi Pemerintah pun harus inovatif. Tangsel tidak memiliki sumber daya alam (SDA) seperti daerah lainnya, namun memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) yang luar biasa, termasuk kaum urban yang jumlahnya cukup besar,” ujarnya ketika menerima iKreatif pertengahan Juni lalu, di Serpong, Banten.

Dalam urusan ekonomi kreatif ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel memang tidak main-main. Tak heran, sekecil apapun peluang yang ada, Airin selalu memanfaatkan peluang tersebut. Alhasil, berbagai pencapaian positif dari waktu ke waktu semakin dirasakan masyarakat Tangsel. Contoh kecil saja, Pemkot sudah mencanangkan kawasan Kecamatan Setu sebagai Kampung Inovatif di Tangsel.

Tidak hanya itu, guna terus menggali pontesi Kampung Kranggan- Kecamatan Setu, Airin mengembangkan galeri dengan basis digital, dan dilanjutkan dengan galeri digital lainnya di semua kecamatan yang ada di Tangsel. “Kami bekerjasama dengan PT Telkom Indonesia untuk semua ini. Dan saya rasa konsep seperti ini baru pertama di Indonesia,”ungkapnya. Ya, meski masih tergolong masih belia, namun dalam urusan ekonomi kreatif Tangsel sudah bisa disejajarkan dengan daerah- daerah kreatif lainnya seperti; Bandung, Jogjakarta, Banyuwangi, Malang, Bukittinggi dan daerah lainnya di Indonesia.

Lalu apa saja strategi Pemkot Tangsel untuk lebih menggairahnya ekonomi kretatif di Tangsel ke depan? Sektor apa saja yang menjadi prioritasnya? Berikut petikan wawancara Tim iKreatif (Erfendi Eka Putra, Zal Hanif, Rusli M. Tang, dan Ade Riyan Purnama) dengan Airin Rachmi Diany, Walikota Tangerang Selatan:

DALAM BEBERAPA WAKTU BELAKANGAN INI, EKONOMI KREATIF DAERAH-DAERAH DI INDONESIA SEMAKIN BERGAIRAH. BAGAIMANA DENGAN KOTA TANGERANG SELATAN?

Sebagai Kotamadya yang relatif masih muda, dan bisa dikatakan tidak memiliki sumber daya alam (SDA), kami harus tetap bisa untuk menggerakkan perekonomian di Tangsel. Jadi, bagi kami industri kreatif menjadi salah satu potensi pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena itu Pemerintah Tangsel harus bisa melakukan inovasi. Inovasi itu tidak hanya dilakukan oleh kami sebagai Pemerintah, tapi kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan yang ada di Tangsel, termasuk partisipasi warga, dan keterlibatan pihak swasta. Tugas kami mendorong sebagai fasilitator dan kapasitator. Dengan inovasi tersebut akan timbul ekonomi kreatif, seperti yang kita lihat saat ini.

 

POLA ATAU PENDEKATAN SEPERTI APA YANG ANDA LAKUKAN UNTUK MENDORONG EKONOMI KREATIF DI TANGSEL?

Ya, ekonomi kreatif kami maknai bahwa bagaimana kita mendorong masyarakat untuk bisa mandiri. Salah satu hal yang kami lakukan adalah dengan menggali potensi yang ada. Dan potensi yang kami miliki di Tangsel ini adalah sumber daya manusia (SDM) yang luar biasa. Jadi pola pendekatan kami di ekonomi kreatif adalah dengan berdasarkan kultur, budaya, kebiasaan, dan kemampuan dari masyarakat Tangsel itu sendiri. Di samping itu, kami juga harus bisa menyatukan empat konsep inovasi. Yaitu akademisi, Pemerintah, swasta, dan juga komunitas. Jadi komunitas itu kami bagi dari wilayah, kemampuan, masyarakat rural, dan masyarakat urban.

 

SECARA SPESIFIK, SEPERTI APA ITU?

Sebagai contoh di kawasan Kecamatan Setu, itu ekonomi kreatifnya lebih banyak di home industry. Saya ingat, tahun 2006 saya keliling Tangsel, dan selalu diberi Kacang Kranggan di kantong plastik hitam. Sekarang tentu sudah beda. Packaging (pengemasannya—red) sudah bagus. Inikan suatu inovasi. bagaimana orang bisa lebih tertarik dan produk tersebut memiliki nilai jual lebih, sementara rasanya tetap lebih enak. Tidak hanya itu, di daerah Setu itu kami juga akan mengembangkan kampung Inovasi. Selain kacang, banyak juga makanan yang enak lainnya di sana. Di kecamatan-kecamatan lain juga begitu. Jadi tinggal bagaimana kita Pemerintah membina dan mendorong semua itu.

 

SEBERAPA BESAR KONTRIBUSI EKONOMI KREATIF TERHADAP PAD TANGSEL?

Cukup besar. Selama ini Tangsel memiliki SDM yang potensial dan ditopang oleh perdagangan dan bisnis jasa. Ekonomi kreatif merupakan salah satu yang menghidupkan ekonomi Tangsel. Misalnya dari ramainya sentra kuliner di Tangsel. Itu memberi dampak besar terhadap perekonomian Tangsel. Banyak restoran-restoran besar dengan ciri khasnya Tangsel, baik yang franchise ataupun yang lainnya. Dan itu menjadi potensi pendapatan kami.

 

PERSOALAN APA YANG ANDA HADAPI DALAM UPAYA MENDORONG EKONOMI KREATIF DI TANGSEL?

Saya pikir tidak jauh berbeda dengan yang dirasakan Pemerintah Kota lainnya, yakni persoalan permodalan, skill (keahlian) pelaku industri kreatif, dan soal pemasaran produknya. Tapi kami memiliki komitmen untuk terus mendorongnya. Seperti bebe- rapa waktu lalu, Pemkot bekerja sama dengan PT. Telkom. Kami yang menyiapkan tempat, dan Telkom yang menyiapkan wifi dan perangkat lainnya. Jadi, sekarang kalau menjual produk-produk di Setu misalnya, sudah bisa dengan sistem online.

Di wilayah Pondok Aren juga begitu. Di sana banyak masyarakat pelaku seni budaya. Seni budaya kami kan lebih ke seni budaya Betawi. Kami dorong mereka untuk membentuk paguyuban atau perkumpulan. Di sana juga ada forum silaturahmi pencak silat dan lainnya. Kami akan memberi kesempatan untuk tampil pada setiap acara festival seni yang kami selenggarakan. Kami selalu dorong itu, dan kami kerja samakan juga dengan pihak swasata.

 

BAGAIMANA STRATEGI ANDA UNTUK MENGATASI PERSOALAN TERSEBUT?

Persoalan modal, kami sudah melakukan kerja sama dengan beberapa lembaga pembiayaan. Seperti beberapa waktu lalu, kami bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN). Setiap pelaku industri dan pelaku UKM, kami bantu dalam pembiayaan pembuatan persertifikatan. Dengan demikian, jika ada sertifikat, mereka juga akan lebih mudah dalam mendapatkan permodalan dari perbankan.

Kampung inovasi yang kami canangkan di Setu itu pun juga hasil kerja sama dengan bank. Bank BNI memberikan permodalan Rp10 juta per orang, dan pelatihan untuk pelaku ekonomi kreatif sendiri dari Pemkot. Selain itu kami juga membantu beberapa peralatan yang mereka butuhkan seperti pemberian mesin jahit dan lainnya.

 

LALU BAGAIMANA DENGAN URUSAN PEMASARAN DAN PROMOSI, SEPERTI APA ITU?

Promosi ini ada di dalam dan ada di luar. anggarannya pun ada dari anggaran Pemkot dan dari dari pihak swasta. Kami memang serius menggarap ekonomi kreatif ini. Selain pameran-pameran di dalam negeri, kami selalu upayakan juga untuk promosi di luar negeri. Misalnya dengan mengikuti agenda Kementerian terkait, seperti bulan lalu (Mei) kami ikut ke Paris-Perancis dan Belanda, dengan Kementerian Perdagangan. Selain itu, kami menggelar event-event dengan mengikutkan selalu produk ekonomi kreatif Tangsel. Pembangunan sentra-sentra UKM juga kami lakukan. Belum lama ini kami baru membangun di Kawasan Setu, Serpong Utara dan Pamulang. Tahun 2015 ini kami juga kembangkan di Kawasan Ciputat, dan 2016 nanti kami akan mengembangkan sentra UKM lima lantai di Bumi Serpong Damai (BSD). Di sana orang-orang bisa berkumpul dan berkreasi. Eksibisi juga bisa, termasuk pelatihan dan buat inkubator.

 

KELIHATANNYA ANDA LEBIH MENDORONG EKONOMI KREATIF DENGAN PRIORITAS DI MUATAN LOKAL?

Ya, saya mengartikan inovasi ekonomi kreatif bergantung dari apa yang ada di wilayah kita secara kearifan lokal. Kalau dengan teknologi yang canggih, kan kami masih berupaya ke arah sana. Tapi saat ini bagaimana kami mendorong ekonomi kreatif ini dengan muatan lokal Tangsel, dengan cara melakukan inovasi-inovasi produk yang sudah ada. Di sisi lain, tentu kami juga mendorong potensi dan membuat suatu inovasi dari masyarakat urban. Ada banyak komunitas di Tangsel ini. Dan itu bisa kami berdayakan. Orang-orangnya juga bisa diandalkan. Seperti Mira Lesmana, Mathias Muchus, Dik Doank, dan banyak lagi, itu semua tinggal di Tangsel. Beberapa waktu lalu kami sempat ketemu, dan dalam waktu dekat ini kami berencana membuat suatu inovasi baru.

 

SEBETULNYA DARI 14 SEKTOR INDUSTRI KREATIF, APA YANG MENJADI SKALA PRIORITAS ANDA?

Semua sektor berusaha kami dorong. Seperti dari sektor pariwisata, kami juga berkerja sama dengan Asosiasi Agen Perjalanan dan Pariwisata Indonesia (ASITA/Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies). Pemkot mendorong pihak swasta membuat destinasi-destinasi baru dengan dukungan pemerintah tentunya. Dari sektor musik, kami juga memiliki Tangsel Jazz Festival. Tahun 2016 ini, rencananya akan diselenggarakan lagi pada bulan Agustus. Ini baru yang kedua kali dan memang masih skala nasional. Tapi ke depan kami akan mencoba untuk skala yang lebih luas lagi. Menariknya, semua ini diselenggarakan oleh anak-anak muda kreatif Tangsel.

 

SELAMA INI PALING BANYAK TUMBUH DI TANGERANG SELATAN?

Ya, kalau untuk sektor kuliner Anda bisa lihat sendiri. Di sini, sektor kuliner paling berkembang dan tumbuh subur. Jadi sebetulnya tanpa kami dorong pun bisnis kuliner di Tangsel sudah tumbuh sendiri. Karena demand-nya juga cukup besar. Sementara itu, para pengembang properti besar yang ada di Tangsel pun ikut memberi andil tumbuhnya sektor kuliner ini. Mereka (pengembang besar) membangun banyak sentra kuliner yang nota bene memang sudah sangat dibutuhkan warga Tangsel.

 

POTENSI KREATIF APA YANG MENURUT ANDA BELUM DIGARAP DI KOTA TANGSEL?

Kalau bicara sektor kuliner, musik, wisata, makanan, kerajinan, dan lainnya, hampir semuanya sudah kami gali dan dorong. Tapi kami akui, industri kreatif di bidang film, dan animasi masih belum digali maksimal. Padahal kita tahu, potensinya besar sekali. Di Tangsel ini,sepertiyangtadisayasampaikanSDM-nyaituada. Nah, saya selaku Pemerintah Kota Tangerang, sudah membuat program untuk ke depan ini. Sektor film dan animasi itu akan kami gali dengan serius.

 

Di wilayah Bintaro itu banyak komunitas dan nanti kami dorong serta akan dikerjasamakan dengan Puspitek (Pusat Penilitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi). Jadi nanti, yang memiliki kemampuan di bidang itu kami dorong ke Puspitek, kemudian ada tempat inkubatornya sehingga bisa menghasilkan nilai jual. Dari pengalaman selama ini, keuntungan yang didapat dari sektor ini juga tidak kalah menjanjikan dibanding sektor yang lain. Saya ke depan punya harapan, punya cita-cita, Pemerintah menyiapkan itu.

 

KAPAN RENCANANYA AKAN DIREALIASIKAN RENCANA TERSEBUT?

Secepatnya. Harapannya 2016 sudah jalan. Pelan-pelan langkah ke arah sana sudah dimulai. Dan kalau tidak aral melintang, tahun depan (2016) Tangsel akan menjadi tuan rumah untuk World Tecknopolis Assosiation (WTA) dalam acara Tangsel Global Inovation Forum. Tahun 2015 sekarang, tuan rumahnya adalah Daejon, Korea Selatan (Daejon Global Inovation Forum).

Pada acara yang diselenggarakan dua tahun sekali itu, akan dihadiri seluruh negara anggota WTA. Selain itu biasanya juga hadir para ahli, praktisi, profesor, dan lainnya. mereka akan berdiskusi untuk menghasilkan ekonomi kreatif. Kalau di luar negeri itu ekonomi kreatif- nya lebih banyak berbasis teknologi (Hi-tech). Berbeda dengan kita yang masih banyak muatan lokalnya.

 

KOTA TANGSEL MEMILIKI PUSPIPTEK DAN SEJUMLAH PERGURUAN TINGGI. SEJAUH MANA PERAN DAN KERJA SAMA DENGAN PEMKOT UNTUK EKONOMI KREATIF?

Mereka juga berperan besar. Kami dengan ITI (Institut Teknologi Indonesia) misalnya, sudah ada kerja sama tentang tanaman angrek. Bagaimana angrek ini nanti bisa bernilai lebih dibanding yang biasa, kami minta dan kita dorong ITI untuk mela- kukan penelitian. Dengan Puspiptek dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), juga kami jalin kerja sama khususnya untuk mengembangkan potensi masyarakat. Seperti penggarapan kerajinan masyarakat mulai dari pertanian anggrek hingga pengelolaan kacang sangrai asal Kranggan. Kalau diga- rap menggunakan teknologi, maka bisa jadi memiliki daya jual yang lebih baik, karena kemasannya juga akan lebih menarik

 

SEKARANG INI SEDANG TREN DIMANA HAMPIR SETIAP PEMERINTAH DAERAH MENGADAKAN FESTIVAL. BAGAIMANA DENGAN TANGSEL?

Ya..., kami memiliki setiap tahunnya yakni “Festival Palang Pintu”. Palang pintu merupakan kesenian Betawi yang patut dilestarikan. Adu “kuat” jawara sekaligus adu pantun ini umumnya digelar saat dilangsungkannya pernikahan dan acara-acara lainnya masyarakat Betawi.

Kami juga memiliki agenda festival budaya, festival makanan tradisional, dan lainnya, dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Tangsel, di bulan November. Jadi, acara acara tersebut itu merupakan bagian dari rangkaian Ultah Tangsel. Tiap kecamatan mengadakan cara itu. Potensi dari festival tersebut yang kami coba kembangkan.

 

TERKAIT DENGAN MASYARAKAT EKONOMI ASIAN (MEA). BAGAIMANA KESIAPAN EKONOMI KREATIF TANGSEL ?

Kita tidak perlu takut. Banyak orang luar datang ke sini karena mereka melihat kita punya potensi. Kita ini berada di rumah kita sendiri, jadi kita akan lebih tahu apa yang diinginkan masyarakat dan bangsa kita. Tinggal bagaimana kita lebih memperdalam dan memperkuat keahlian, packaging, dan kualitas produk. Orang luar datang dengan produk mereka, dan kita buat produk harus bisa bersaing dengan meningkatkan potensi dan kemampuan kita. Di Tangsel sendiri, kami selalu ada pelatihan bagi pelaku ekonomi kreatif. Baik yang diadakan BLK (Balai Latihan Kerja) Pemkot maupun kerja sama dengan swasta.





NEWSLETTER


creative-ads