
IKREATIFONLINE.COM. Di belantika musik Indonesia, anak seorang diplomat yang juga musisi ini telah menorehkan tinta emas. Khususnya sebagai penyanyi dan musisi dengan genre musik rock. Dari musik, naluri berkeseniannya berlanjut ke seni akting. Jika di dunia tarik suara Ikang telah menelurkan 7 album, maka di dunia seni peran Ikang sudah bermain di 19 judul film.
Ahmad Zulfikar Fawzi atau yang biasa dikenal sebagai Ikang Fawzi memang sudah tak lagi terlibat aktif di industri musik. Ia telah bermetamorfosa dari seorang penyanyi ke businessman di bidang real estate. Namun kepeduliannya tentang kemajuan musik Indonesia tak pernah surut hingga
Soal musik, suami dari politikus yang juga bintang film, Marissa Haque, ini sudah menekuni dunia musik sejak kecil. Bersama ayah dan kedua saudaranya, Ikang pernah membentuk family band. Dan pria kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959 ini juga mengakui bahwa musik sudah menjadi passion-nya sejak kecil.
Menurut Ikang, pada zamannya (tahun 80-an), ada anggapan publik bahwa menjadi musisi bukanlah jenis pekerjaan yang berkualitas yang bisa mendatangkan banyak uang. Parahnya musisi dicitrakan buruk. Namun Ikang kemudian menepis anggapan itu dengan terus berprestasi di dalamnya. Berbekal idealismenya yang kuat, Ikang akhirnya mampu memenangkan begitu banyak kesulitan dalam karier bermusiknya. Salah satunya adalah ketika lagu “Preman” yang dianggap tak bisa menuai sukses justru menjadi langkah besar Ikang dalam dunia musik. Produser pun lantas terus mendekatinya setelah kesuksesan lagu itu. Ikang pun meroket.
Bagaimana dengan atmosfer musik rock di era digital ini? Lelaki berdarah Sunda-Bugis ini mengatakan, musisi rock zaman sekarang lebih terbantu dari segi teknologi digital. Musik telah menjadi industri kreatif dimana semua orang bisa melakukan dan menghasilkan karya sendiri tanpa kesulitan yang berarti. Namun Ikang masih merasa lega, sebab musik rock masih tetap menjadi suara hati rakyat. Tetap berprinsip anti kemapanan yang artinya kemapanan bukanlah sebuah tujuan.
Menurut Ikang, seharusnya musisi juga mu- lai bisa menjadi businessman. Bahwa berada di dunia musik tidak hanya cukup menjadi seorang musisi saja. Tapi juga harus menjadi subjek dari industri musik itu sendiri. Musisi sudah harus mulai memikirkan bagaimana tentang pemasaran lagunya, bagaimana publikasinya, bagaimana konsep dalam bermusiknya, bagaimana pasar yang akan dihadapinya.
Di situ musisi ditantang untuk bisa menjadi professional enterpreuner. Yang kemudian akan dinilai adalah sebuah kelayakan karyanya. Sebab entertainment tidak akan pernah habis. Berbeda dengan giok, emas, mutiara, atau segala benda mulia lainnya yang bisa habis. Ide dan kreativitas tidak akan pernah mati. Di situlah letak mahalnya seorang musisi.
Pembajakan? Pemeran Kiai Amin Rais dalam film Negeri 5 Menara ini juga amat mengecam pembajakan yang mencederai musik Indonesia. Menurutnya, pembajakan adalah sebuah perampokan hak intelektual seorang musisi. Kelak akan banyak musisi yang malas untuk berkreasi lagi sebab pembajakan makin marak dan tak pernah dengan tegas mendapatkan hukuman. Seharusnya badan ekonomi kreatif milik Pemerintah bisa turun ke bawah dan berkeringat dalam menyelesaikan permasalahan pembajakan ini.
Untuk itulah Ikang mengingatkan para musisi muda, bahwa kekuatan dari seorang musisi ada di kreativitas, identifikasi, dan teknologi. Kreativitas tentu akan membuat seorang musisi menghasilkan karya yang baik, identifikasi akan membuat karyanya menjadi kuat. Sebab Indonesia adalah negeri paling kaya. Kekayaan tradisional, intelektual, dan budaya Indonesia lebih dibandingkan negara lain. Ikang memastikan itu sebab dia telah tinggal di banyak negara dan melihat kekayaan musik di sana.
Sayangnya, musisi Indonesia malu untuk bangga terhadap kebudayaannya sendiri. Dan dari segi teknologi, tentu saja musisi Indonesia harus ikut andil dalam industrinya sendiri. Termasuk komunikasi, marketing, dan publikasi. Ia juga mengakui bahwa permasalahan yang dihadapi musisi Indonesia adalah pada pemerintahnya yang masih sekadar berteori. “Kalau ditanya apa kontribusi musisi untuk negara, jawabnya banyak. Tapi apa kontribusi negara untuk musisi? Zero,” ujarnya singkat.
Bagi Ikang, musik adalah lokomotif sebuah zaman. Musik bisa diterima di semua kalangan dan akan terus menjadi kekuatan setiap zaman. Tapi pemerintah bahkan tidak bisa melindungi karya-karya musisi dengan baik. Interpretasi tertinggi seorang musisi hanya pada properti dan royalti. Pemerintah masih memandang sebelah mata dan menganggap permasalahan ini tidaklah penting. Kelemahan dalam sistem pemerintah ini terjadi karena kurangnya pengawasan dan operasional tim yang baik. Karena itulah, musisi di Indonesia kehidupannya kurang terjamin. Pelaku industri musik seharusnya menjadi subjek di dalamnya dan berlaku sebagai businessman.