
Teks dan Foto : Ade Riyan Purnama
IKREATIFONLINE.COM. Lucu, unik, santai, dan swing mungkin adalah empat kata pertama yang bisa menggambarkan seorang Kunto Aji Wibisono atau yang kemudian lebih akrab dipanggil Kunto Aji. Pria kelahiran Yogjakarta ini sedang merintis karier di industri musik Indonesia sebagai penyanyi Pop Solo. Namun jika kita seksama mendengarkan setiap penampilannya, ia lebih condong ke genre jazz.
Seperti obrolan ringannya dengan iKreatif di acara Tangerang Jazz Festival, ia mengakui bahwa jazz sama seperti kandungan susu dalam makanan. “Secara tidak sadar sebenarnya kita akan lebih sering mendengarkan musik jazz. Meskipun kemudian seorang musisi akan mengatakan alirannya adalah pop progresif atau apapun,“ ungkapnya membuka sesi wawancara sore itu.
Menyukai Eric Clapton sejak masih kecil jelas membawa Kunto Aji ke arah jazz. Jebolan Indonesian Idol musim ke-5 ini mengakui bahwa karya-karya Eric Clapton sudah memberikan influence padanya sejak diperkenalkan oleh sang ibu. “Ibu saya itu suka musik,“ ujarnya bercerita. Kecintaannya pada musik membuatnya menjadi pribadi yang santai namun fokus. “Saya itu nggak terlalu idealis kalau soal musik. Tapi saya tetap punya musik ideal menurut saya sendiri,” tegasnya. Benar bahwa prinsip itulah yang kemudian mengantar lelaki berambut keriting ini menjadi pemenang nominasi Breakthrough Artist of the Year dalam ajang Indonesian Choice Awards 2015 NET.
Ketika ditanya mengapa memilih melalui jalur indie, pria berusia 29 tahun ini mengakui bahwa sisi idealisnya yang mengarahkan ke sana. “Ada beberapa benturan yang tidak bisa mengakomodir karya-karya saya, misalnya beberapa kepentingan yang jelas tidak mungkin diterima oleh saya beserta karya saya.“ Namun menurut Kunto Aji, idealisme itu tentunya perlu disertai dengan bekal referensi yang banyak. “Biar idealisme nggak hilang, coba ikuti kata hati. Kalau ada yang nggak cocok dengan zaman sekarang, lihat dari sisi lain idealisme itu. Cari saja dari sisi lainnya,“ begitu cara Kunto Aji menggenapi konsistensinya di dunia musik Indonesia.
Disini pada akhirnya Kunto Aji enggan di sebut sebagai musisi Jazz, sebab beban berat yang harus disandangnya dengan julukan tersebut belum mampu ia penuhi. “Musisi jazz itu harus melestarikan dan konsisten di genre tersebut. Saya belum,” ujarnya santai.
Pria yang juga memulai debut sebagai pemain film Senggol Bacok di tahun 2010 ini mengatakan bahwa masa digital sudah memenuhi semua industri kreatif di Indonesia. Untuk itulah menurutnya membicarakan tentang pembajakan sudah tidak relevan lagi saat ini. “Dunia digital itu punya dua sisi mata uang. Bagaimana pun, musisi tetap terbantu secara marketing oleh para pembajak itu,“ ujar peraih Nominasi Male Singer Of The Year 2015 ini. “Meskipun pada hukumnya, pembajakan sudah jelas kesalahan,“ lanjut Kunto Aji tegas.
“Saya berharap ke depannya musik Indonesia semakin sehat,“ doanya ketika ditanya tentang harapan akan perkembangan musik di Indonesia di masa yang akan datang. “Tidak ada monopoli dan semua pihak bisa saling mensejahterakan,“ ujarnya menutup sesi obrolan ringan sore hari tersebut.