
Teks: Rusli M. Tang
IKREATIFONLINE.COM. Tangsel Jazz Festival (TJF) memanjakan para pecinta musik jazz dengan kemasan acara yang inovatif. Yaitu dua hari penuh musik jazz. Dan bagaimana caranya agar penonton tidak ketinggalan menyaksikan idolanya naik panggung? “Jazz Tenda, itulah jawabannya. Untuk itu Panitia TJF telah memikirkan hal tersebut sehingga menyiapkan 50 tenda di area South City, Pondok Cabe, bagi para peserta TJF,” ujar Dini Deniasti Atik, pimpinan Promotor TJF membuka obrolan bersama iKreatif.
Acara yang diadakan 15-16 Agustus 2015 lalu itu menampilkan para musisi-musisi Jazz lintas generasi. Dimulai dari Mus Mujiono, Ermy Kulit, Iga Mawarni, Maliq & D’Essesntial sampai Tulus, dan Kunto Aji. Bertebaran bintang tamu dalam acara tersebut membuat pihak promotor memiliki target besar yaitu pengunjung sebanyak 3.000 setiap harinya.
Dalam TJF ke-2 ini, Dini selaku promotor berbendera D’Lyrick ini telah berupaya maksimal untuk menyukseskan acara musik ini. Konsep Jazz Tenda yang menjadi ide original dari TJF tentunya memiliki aturan-aturan baku. Peraturan lainnya adalah penonton biasa (dalam hal ini bukan penonton yang menginap) akan diatur supaya tidak mengganggu pandangan penonton Jazz Tenda. “Jadi penonton Jazz Tenda tetap bisa menikmati TJF tanpa perlu keluar tenda,“ jelasnya.
Ditanya mengenai alasan mengadakan konsep Jazz Tenda, Dini menjelaskan ide itu berangkat dari sebagian panitia yang ternyata adalah anak-anak pecinta alam. “Kami tawarkan pada komunitas pecinta alam juga, dan mendapat sambutan yang cukup meriah,“ ujarnya menambahkan.
Selain itu, konsep Jazz Tenda merupakan solusi menonton jazz full dua hari dua malam yang ekonomis dan bebas macet. “Coba kalau harus pulang dulu, biaya perjalanan dan harga tiket masuknya pasti akan membengkak. Belum macet di jalannya,“ tegas Dini simpel. Selain itu Dini juga ingin mengajak para pecinta jazz di luar Jakarta untuk ikut hadir dan menikmati kemeriahan Jazz di Tangsel dengan konsep yang baru. “Jazz bukan hanya di ibu kota kan? Dan menginap itu pasti lebih seru karena kumpul dengan teman-teman,“ ujarnya tersenyum.
Memadukan festival jazz yang menginternasional dengan elemen-elemen bambu yang khas Indonesia mungkin hanya ada di TJF 2015. Tentu hal itu dilakukan dengan suatu misi. “Melalui acara ini, kami ingin mengkampanyekan ‘Save Earth’ dan mengajak penonton untuk semakin cinta alam,” kata Dini dari D’Lyrick. Dia berharap, setelah acara ini selesai diselenggarakan seluruh penonton se-makin memunculkan kecintaannya terhadap bumi dan semakin peduli lingkungan.
TJF adalah jawaban dari keinginan pecinta musik Jazz untuk berkumpul dan melestarikan musik jazz melalui persahabatan dan kelestarian lingkungan. Mari kita sela-matkan bumi sembari nge-Jazz!